"Diharapkan keluarga yang berhubungan darah agar datang dengan membawa keterangan dan informasi, termasuk dokumen dari Dukcapil, kemudian catatan medis," ujarnya. Sebelumnya, DVI Pusdokkes Polri Ahmad Fauzi mengatakan keluarga korban yang datang ke posko sebaiknya membawa dokumen seperti Kartu Keluarga atau ijazah untuk pencarian sidik jari.
Lalu dokumen lainnya yang bisa dibawa adalah data perawatan gigi seperti hasil rontgen gigi. Selain itu, barang-barang seperti sikat gigi yang biasa dipakai atau pakaian dalam yang telah dipakai namun belum dicuci bisa juga dibawa untuk proses identifikasi. "Untuk pengambilan sampel DNA diharapkan orang tua kandung, anak kandung, beserta pasangannya, suami atau isteri," kata Ahmad, melalui pesan singkat.
Sementara itu saat peristiwa terjadi, seorang nelayan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, Solihin mengaku melihat ledakan di depannya sekitar pukul 14.30 WIB. Solihin saat itu sedang pergi melaut menaiki bubu. "Kejadiannya posisi saya lagi narik bubu, terus saya belum lama sekitar 15 menit, ada ledakan di depan saya, dari atas ada serpihan api langsung turun ke bawah air, langsung ada ledakan air dari bawah muncrat ke atas," kata Solihin.
Lokasi dirinya dengan diduga titik ledakan hanya berjarak sekitar 14 meter sehingga saat ada ledakan di laut, bubunya ikut tergoncang. "Sekitar 14 meter lah [lokasi], dari atas begitu sampe air dia [serpihan api] langsung kayak gimana kalau bom jatuh ke bawah air langsung ada ledakan dalam air. Lumayan goncangan saya juga hampir kena serpihan ledakan itu," ungkapnya.
Nelayan Pulau Lancang lainnya, Amirtang mengaku mendengar suara dentuman keras sekitar pukul 15.00 WIB. "Dengar suara dentuman keras sekitar jam 3 kurang, dentuman aja gitu," kata Amirtang. Saat kejadian, Amirtang sedang berada di rumahnya di Pulau Lancang. Ia mengatakan kondisi cuaca sekitar Kepulauan Seribu amat gelap dan hujan, sehingga ia tidak mencari tahu lebih lanjut soal dentuman itu. "Di luar gelap sekali waktu itu, dan cuaca hujan, cuman dengan suara dentuman keras," jelas Amirtang.
Sementara Kasie Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Surachman mengaku mendapat laporan dari warga yang mendengar dua kali ledakan dari tengah laut. "Awalnya saya ada laporan dari nelayan, dua kapal mereka melihat ada ledakan dari laut dua kali saat itu masih hujan. Mereka melihat sedikit pesawat dan memutuskan pulang jam 2. Kemudian mereka lapor jam 4, lalu langsung koordinasi dengan pemadam kebakaran dan meminta meluncur ke lokasi." kata dia.
Surachman bersama warga kemudian mencoba mendekati lokasi kejadian dan menemukan sejumlah benda termasuk potongan badan pesawat. Kementerian Perhubungan kemudian merilis data terkait pesawat Sriwijaya yang jatuh tersebut. Pesawat komersial Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak yang mengangkut 50 penumpang dan 12 kru dinyatakan jatuh setelah sebelumnya hilang kontak, pada Sabtu (9/1).
Basarnas memperkirakan lokasi jatuhnya pesawat tersebut punya kedalaman 20-23 meter. Dalam konferensi pers, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan kronologi hilang kontaknya pesawat itu.
Ia menyebut, pesawat itu lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 14.36 WIB. "Pada pukul 14.37 WIB masih berada di ketinggian 1.700 kaki dan diizinkan naik ke ketinggian 29 ribu kaki dengan mengikuti standar instrumen," kata Budi.
Pesawat lalu dinyatakan hilang kontak pada 14.40 WIB. "Kemudian pukul 14.40, Sriwijaya terpantau tidak ke arah O75 derajat melainkan ke Barat Laut, oleh karenanya ditanya ATC untuk melaporkan arah pesawat. Tidak lama kemudian, dalam hitungan seconds (detik), SJY 182 hilang dari radar," ujar dia. Minggu (10/1) pagi ini, TNI Angkatan Udara mulai menerbangkan armada guna membantu pencarian titik jatuh dan dugaan korban selamat dari pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta Pontianak.
"Terkait pencarian SJ 182, saya sebagai Koordinator TNI AU dalam pencarian membantuBNPB atauBasarnas ke lokasi jatuhnya pesawatSriwijaya. Ruang udara yang digunakan pencarian kita atur dari Posko di Lanud Halim ini, sehingga proses pencarian dariudr akan lebih terkoordinasi," kata Asisten Operasi TNI AU Marsekal Muda Henri Alfiandi di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pagi tadi.
Ia mengatakan koordinasi itu baik antara TNI AU, Basarnas, dan lain-lain yang melakukan pencarian dari wilayah udara. Adapun deretan pesawat yang akan diterbangkan untuk pencarian tersebut, mengutip dari rilis Puspen TNI antara lain: 1 Heli Super Puma Nas-332, EC-752 Caracal, Fix Wing Boeing 737 Intai Maritim, dan CN- 295. Lalu, 1 Heli Dauphin HR 3604 milik Basarnas dan Personel SAR dari Korphaskas. "Fix Wing kita siapkan Boeing 737 dari Skadron 5 Hasanuddin [Makassar] yang saat ini sedang menuju ke Jakarta untuk membantu," kata Henri. Henri memaparkan untuk operasi pencarian ini TNI AU melibatkan sekitar 150 personel.
Selain deretan pesawat yang dikoordinasikan dari Halim Perdanakusuma, TNI AU juga telah mengerahkan personel Satuan Komando Kewilayahan (Satkowil) Kodam Jaya, 4 KRI TNI AL, Personel Intai Amphibi (Taifib) dan Detasemen Jalamangkara (Denjaka) bergerak pada Sabtu malam lalu bersama Basarnas untuk mencari korban Sriwijaya SJ 182 yang jatuh di laut sekitar Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini dirangkum korankaltim.com dari cnnindonesia.com hari Minggu 10 Januari 2021