Paham tersebut, disebut-sebut mendasari apa yang dilakukan presiden muda itu, melakukan hal-hal yang dinilai menyakiti perasaan dan mengoyak kesucian umat beragama. Lalu sebenarnya, apa itu sekularisme.
Pardoyo, dalam bukunya berjudul 'Sekularisasi dalam Polemik' yang diterbitkan tahun 1993 menjelaskan, istilah sekularisme baru muncul pada abad ke-19 khususnya melalui karya George Jacob Holyoake, yang mendifinisikan sekularisme sebagai system etik yang didasarkan pada prinsip-prinsip moral alami (duniawi) dan terlepas dari Agama atau prinsip supernatural.
Sementara Syed Muhammad Naquib Al-Attas seorang cendekiawan dan filsuf muslim asal Malaysia dalam bukunya berjudul Islam and Secularism yang juga diterbitkan pada 1993 mengidentifikasi, istilah Sekularisme telah digunakan di dunia Barat yang merujuk pada kebijakan khusus terhadap adanya pemisahan Gereja dari Negara.
Kata tersebut diambil dari bahasa Latin Saeculum yang memiliki dua konotasi yaitu Time (Masa) dan Location (tempat). Waktu menunjukkan Now atau Present (Sekarang) sedangkan Location
(tempat) dinisbatkan kepada World (dunia).
Dalam kamus The New International Webster's Compeherensive Dictionary of the English Languange, mengartikan Secularism sebagai sesuatu yang terkait dengan keduniaan dan menolak nilai-nilai spiritual Sedangkan Secularize adalah proses penduniaan, proses untuk menuju sekuler: perpindahan dari kesakralan menuju kesekuleran.
Dari dalam negeri, rujukan ilmiah mengenai istilah ini didapat Korankaltim.com, dalam disertasi
Muhammad Tahir Azhary, dalam desertasinya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang Berjudul Negara Hukum mendefinisikan Sekularisme sebagai "paham yang ingin memisahkan atau menetralisir semua bidang kehidupan seperti politik dan kenegaraan, ekonomi, hukum, social budaya dan ilmu pengetauhan teknologi dari pengaruh Agama atau hal-hal yang ghaib.
Sedangkan sekularisasi, menurutnya adalah usaha atau proses yang menuju kepada keadaan sekuler atau proses netralisasi dari setiap pengaruh Agama dan hal-hal yang gaib. Sekuler adalah sifat-sifat yang menunjuk kepada sesuatu keadaan yang telah memisahkan kehidupan duniawi dari pengaruh Agama atau hal-hal yang gaib.
M Syukri Ismail, akademisi dari STAI YASNI Muara Bungo, dalam jurnal ilmiah bertajuk Kritik Terhadap Sekularisme (Pandangan Yusuf Qardhawi) menyimpulkan, bahwa bahwa kata Sekular, Sekularisasi, Sekularisme mempunyai makna dan pengertian yang berbeda-beda. Kata Secular, yang berasal dari kata latin Saeculum diartikan dengan Masa (waktu) dan Tempat yang berlaku sekarang atau masa kini.
Kata Sekularisasi, banyak diartikan sebagai Proses menuju ke Sekular dan Sekularisme. Sedangkan Sekularisme banyak diartikan sebagai ideologi yang dihasilkan dari proses Sekularisasi. Tetapi sebenarnya dapat disimpulkan juga bahwa Sekularisasi merupakan sebuah Ideologi, mengapa demikian?
Karena Sekularisasi yang diasumsikan proses menuju Sekuler, tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang melaksanakan Sekularisasi dalam hidupnya pada akhirnya akan menjadi Sekuler dan akan menganut paham Sekularisme, karena sekularisasi pada akhirnya akan mengantar penganutnya ke Sekularisme.
Sekularisai sangat erat hubungannya dengan Sekularisme, dua istilah ini merupakan dua hal yang tidak bisa di pisahkan, walapun ada yang mengatakan bahwa sekularisasi tanpa sekularisme akan terjadi dalam sejarah bahkan sudah terjadi.[]
Penulis/editor : Rusdianto
Senarai Kepustakaan :
1. Pardoyo.
Sekularisasi dalam Polemik. (Jakarta: Grafiti, 1993)
2. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Islam and Secularism. (Kuala
Lumpur : International Institute of Islamic Thought and Islamic
Civilization (ISTAC), 1993). h. 16.
3. The New International Webster's Compeherensive Dictionary of the
English Languange. (Chicago: Trident Press International, 1974) h. 1138.
4. M. Syukri Ismail
Journal article ( Kontekstualita: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan • 2014) (diakses Minggu 1 November 2020)