Kegiatan itu dihadiri langsung Pelaksana tugas Deputi Geofisika Hanif Andi Nugraha. Dalam sambutannya yang diterima Korankaltim.com, Hanif mengatakan bahwa Kabupaten Kutai Timur khususnya pada wilayah Sangkulirang merupakan salah satu daerah dengan wilayah rawan gempa bumi dan tsunami.
Sumber gempa bumi yang berpotensi tsunami di wilayah ini dapat dipicu oleh aktivitas Sesar Sangkulirang yang menurut para ahli berpotensi membangkitkan gempa dengan kekuatan 7,0 magnitudo.
Catatan Sejarah menunjukkan bahwa pada 14 Mei 1921 Wilayah Kutai Timur pernah terjadi gempa kuat yang guncangannya dirasakan hampir di seluruh Wilayah Pulau Kalimantan. Di Kutai Timur, dampak gempa ini dilaporkan mencapai skala intensitas maksimum mencapai VI-VII MMI dengan diskripsi terjadi kerusakan tingkat sedang hingga berat.
Berdasarkan lokasi episenternya, gempa yang terjadi diduga kuat dipicu aktivitas zona Sesar Sangkulirang (Sangkulirang Fault Zone).
Peristiwa gempa ini menyebabkan terjadinya kerusakan di Sangkulirang dan sekitarnya. Kerusakan parah terjadi di Pulau Rending yang terletak di Teluk Sangkulirang.
Saat itu, dilaporkan banyak rumah rusak di Kaliorang dan Sekurau. Dilaporkan juga lubang-lubang bor sampai menyemburkan air, terjadi rekahan tanah sepanjang 10 meter, lebar 20 cm, kedalaman 2 meter, yang menyemburkan air bercampur pasir dan tanah liat (likuifaksi).
Diperkirakan radius wilayah yang dilanda gempa mencapai 250 kilometer. Gempa ini memicu tsunami yang menimbulkan kerusakan parah di Sekurau. Menurut saksi mata, air laut menggenangi jalan hingga setinggi 1 meter.
Peristiwa bencana gempa dan tsunami Sangkulirang 14 Mei 1921 ini belum terdokumentasi dengan baik sehingga tidak diketahui secara lengkap jumlah dampak kerusakan dan korban jiwa yang terjadi.
"Peristiwa gempa bumi dan tsunami di Kutai Timur tersebut menjadi pengingat kita bersama, khususnya masyarakat pesisir Kutai Timur, untuk selalu waspada terhadap kemungkinan bencana tsunami yang dapat terjadi lagi secara tiba-tiba,"kata Hanif melalui keterangan tertulisnya, Selasa (8/8).
Hanif menerangkan, konsep ilmu gempa (seismologi) bahwa gempa memiliki periode ulang (recurrent period) sehingga Pemerintah Daerah dan Masyarakat Pesisir Kabupaten Kutai Timur, patut belajar dari pengalaman tersebut, agar mampu memitigasi dan mengurangi risiko kerusakan dan korban hingga sekecil mungkin di masa mendatang.
"Sekolah lapang gempa bumi dan Tsunami ini merupakan salah satu ikhtiar kita untuk memperkuat dan meningkatkan kapasitas pemerintah daerah sekaligus membangun sikap tanggap gempa bumi dan tsunami bagi masyarakat serta sekolah," ungkapnya.
BMKG juga saat ini, lanjut Hanif, tengah berupaya berkontribusi dalam penyusunan Peta Bahaya Tsunami untuk disosialisasikan kepada Pemerintah Daerah dan Masyarakat.
Peta tersebut sangat penting sebagai acuan mitigasi tsunami untuk keselamatan dan keberlangsungan masyarakat di daerah rawan tsunami. Peta Bahaya Tsunami juga menjadi acuan bagi masyarakat dalam penentuan rencana evakuasi, agar selamat dari bahaya tsunami.
"Perlu kita tanamkan bahwa membangun kesiapsiagaan adalah upaya yang harus dilakukan bersama antara Pemerintah Daerah, Masyarakat, Dunia Usaha, Akademisi (Perguruan Tinggi) dan Media informasi,"paparnya.
Editor: Supiansyah