Mengusung tema
“Saatnya Bekerja Untuk Iklim”, kegiatan ini menjadi momentum penting
untuk memperkuat kesadaran bersama dalam menghadapi tantangan perubahan
iklim sekaligus membangun budaya gotong royong menjaga kelestarian
lingkungan.
Apel peringatan dipimpin Sekretaris Daerah Kabupaten
Kutai Kartanegara Sunggono, dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing
Martadipura, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda),
pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), DPRD Kukar, kalangan dunia
usaha, tenaga pendidik, hingga para pelajar SMP dan SMA di Tenggarong.
Sunggono
menegaskan peringatan Hari Lingkungan Hidup merupakan amanah dari
Kementerian Lingkungan Hidup yang dilaksanakan secara nasional sebagai
bentuk nyata gotong royong menghadapi perubahan iklim.
Berbagai
program terus dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap
lingkungan, di antaranya pembinaan sekolah Adiwiyata serta sosialisasi
pengelolaan sampah melalui bank sampah.
“Gerakan lingkungan
harus menjadi budaya bersama. Kebersihan bukan hanya tugas Dinas
Lingkungan Hidup, tetapi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat,” ujar
Sunggono.
Sebagai wujud komitmen terhadap penghijauan, dalam
rangkaian kegiatan kali ini juga dilakukan penanaman sebanyak 81 pohon
yang terdiri dari 15 pohon ulin, 10 pohon meranti, 20 pohon buah, 8
tanaman hias, dan 28 tanaman hutan. Penanaman dilakukan di sejumlah
titik strategis di wilayah Tenggarong.
Persoalan sampah yang masih
menjadi tantangan serius di berbagai daerah juga jadi sorotan. Sampah
yang tidak dikelola dengan baik tidak hanya berdampak pada kebersihan
lingkungan, tetapi juga dapat mencemari tanah, air dan laut serta
memengaruhi kesehatan masyarakat dan stabilitas iklim.
“Masalah
sampah bukan sekadar persoalan kebersihan. Dampaknya sangat luas, mulai
dari kesehatan, ekonomi hingga lingkungan hidup. Karena itu, perubahan
harus dimulai dari rumah tangga dengan membiasakan memilah sampah
organik dan non-organik,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Kukar
akan terus memperkuat edukasi dan pengembangan bank sampah melalui
konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R) dengan melibatkan dunia usaha,
komunitas, serta masyarakat.
Seluruh perangkat daerah diajak untuk
menjadi teladan dalam penerapan perilaku ramah lingkungan. Gerakan
lingkungan tidak boleh berhenti pada kegiatan bersih-bersih seremonial,
tetapi harus berkembang menjadi budaya gotong royong dan budaya malu
ketika lingkungan dalam kondisi kotor.
“Peringatan Hari
Lingkungan Hidup harus menjadi momentum membangun Kutai Kartanegara yang
lebih bersih, lebih hijau, dan lebih tangguh menghadapi perubahan
iklim,” harapnya.
Selain apel dan pemberian penghargaan kepada
sejumlah pihak yang berkontribusi dalam pengelolaan lingkungan, kegiatan
juga diisi dengan aksi penanaman pohon dan pengelolaan sampah di
sejumlah zona yang telah ditentukan, termasuk kawasan Taman Pujasera,
sekitar Jam Bentong, serta area Taman Kota Raja di tepian Sungai
Mahakam.
Editor: Aspian Nur