Permintaan maaf tersebut disampaikan saat mediasi antara pihak keluarga pasien dan tenaga kesehatan yang difasilitasi Kepala Desa Menamang Kanan, Amri, di kediamannya pada Rabu (27/5/2026) malam tadi.
Kepala Desa Menamang Kanan Amri mengatakan, mediasi dilakukan atas permintaan Kepala Puskesmas Bunga Jadi guna mencari penyelesaian terbaik dan menjaga hubungan baik antara masyarakat dengan petugas kesehatan.
“Dari hasil mediasi yang dilakukan, pihak tenaga medis Pusban Menamang Kanan mengakui kesalahan, memohon maaf kepada pihak Pak Gambir dan berjanji tidak akan mengulangi lagi serta siap meningkatkan pelayanan,” kata Amri kepada Korankaltim.com, Kamis (28/5/2026).
Persoalan tersebut diharapkan menjadi evaluasi bersama agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan, dapat berjalan lebih optimal dan responsif.
Kasus ini sebelumnya menjadi perhatian masyarakat setelah cucu dari Sekretaris Remaong Kutai Menamang (RKM), Gambir, meninggal dunia pada Sabtu (23/5/2026). Keluarga menilai penanganan medis di Pusban Menamang Kanan berlangsung lamban sehingga pasien terlambat mendapatkan rujukan ke rumah sakit.
Pihak keluarga berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi dan meminta adanya pembenahan menyeluruh terhadap pelayanan kesehatan di daerah.
Ketua Lembaga Adat Desa Menamang Kanan Kadir menegaskan pemerintah perlu melakukan pengawasan rutin terhadap seluruh pelayanan pusat bantuan kesehatan, terutama di wilayah pedesaan yang jauh dari akses rumah sakit.
“Kalau dari saya sendiri tetap meminta pemerintah memonitor pelayanan di setiap Pusban, terutama di Menamang Kanan. Kemudian jangan ada jam-jam operasional, pelayanan harus 24 jam,” tegasnya.
Pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan mendasar masyarakat yang harus tersedia kapan saja, terutama dalam kondisi darurat. Karena itu, ia berharap pemerintah daerah benar-benar memastikan kesiapan tenaga medis maupun fasilitas pendukung di lapangan.
“Selain pengawasan, masyarakat juga berharap adanya peningkatan kompetensi tenaga kesehatan agar mampu mengambil keputusan cepat dalam kondisi darurat medis,” harap Kadir.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya pelayanan kesehatan di tingkat desa membutuhkan perhatian serius, baik dari sisi sumber daya manusia, kesiapan fasilitas, hingga sistem pengawasan yang berkelanjutan.
Masyarakat berharap langkah mediasi dan permintaan maaf yang telah dilakukan dapat menjadi awal perbaikan pelayanan kesehatan yang lebih baik, humanis, cepat, dan profesional bagi seluruh warga. “Kami memohon maaf kepada Pak Gambir sekeluarga,” ucap perwakilan nakes.
Editor: Aspian Nur