Kondisi ini memicu kekhawatiran serius bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai. Selain merusak keindahan dan kebersihan lingkungan, tumpukan tumbuhan tersebut dinilai menyembunyikan ancaman bahaya yang nyata.
Ketua RT 35 Gunung Belah Ahmad Maulana mengungkapkan, hilangnya kelancaran arus sungai akibat tumbuhan liar itu berpotensi besar memicu masalah lingkungan baru. Namun, hal yang paling ditakuti warga saat ini adalah ancaman keselamatan jiwa yang bisa saja disebabkan oleh hewan buas.
"Kami khawatir tumpukan tumbuhan liar yang padat ini jadi sarang berkembang biaknya binatang buas seperti ular, biawak, serta buaya," ujar Ahmad kepada KoranKaltim, Rabu (27/5/2026).
Kawasan di sekitar sungai masih menjadi pusat aktivitas harian masyarakat setempat, termasuk anak-anak yang sering bermain di area bantaran sungai. jika dibiarkan tanpa tindakan, tumpukan tumbuhan liar juga dipastikan akan menyumbat total aliran air dan memicu pendangkalan yang bisa menyebabkan banjir saat curah hujan tinggi.
Melalui ruang publik ini, warga RT 35 berharap perhatian responsif dari instansi teknis terkait di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
"Kami berharap petugas segera turun ke lapangan untuk melakukan peninjauan dan mengeksekusi pembersihan kumpai secara menyeluruh," harapnya.
Selain binatang buas, tumbuhan liar ini juga dapat menghantam dan menghancurkan Jembatan Penyeberangan serta tiang rumah milik warga yang berada di bantaran anak sungai.
"Kami tak ingin kejadian seperti yang di wilayah Bekotok Tenggarong tumbuhan liar yang hanyut itu menghantam tiang langgar hingga patah, ini sangat berbahaya sekali," ungkapnya.
Langkah cepat dari pemerintah sangat dinantikan demi mengembalikan fungsi sungai, menjaga kebersihan, serta mengembalikan rasa aman, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga sekitar.
Editor: Aspian Nur