Menurutnya, aktivitas kebersihan yang ada saat ini masih bersifat seremonial, sesaat, dan sekadar rutinitas formal. Akibat dari minimnya kesadaran ini, kebiasaan membuang sampah sembarangan masih menjamur di berbagai titik, mulai dari kawasan permukiman, ruang publik, hingga pinggir jalan.
"Masalah sampah ini bukan hanya soal fasilitas atau hanya kegiatan bersih-bersih saja, tetapi bagaimana membangun kesadaran masyarakat supaya peduli kepada lingkungannya," ujar Sopan, Selasa (26/5/2026).
Imbauan dan program rutin dari pemerintah tidak akan pernah cukup tanpa adanya strategi matang yang mampu mengubah perilaku masyarakat. Kalau pendekatan pemerintah tidak diubah persoalan sampah di Kukar akan terus berlanjut. Pemerintah daerah dituntut hadir dengan pendekatan yang lebih efektif agar masyarakat merasa ikut memiliki dan terlibat langsung menjaga kebersihan.
Sebagai solusi, pentingnya penerapan edukasi lingkungan sejak usia dini. Budaya menjaga kebersihan harus ditanamkan sejak kecil agar melekat dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Sejumlah fasilitas pengelolaan sampah yang sebenarnya telah tersedia di beberapa wilayah Kukar harus dioptimalkan. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran praktis bagi anak-anak maupun masyarakat umum mengenai proses daur ulang dan manajemen limbah.
“Edukasi itu penting supaya mereka tak hanya tahu soal kebersihan, tetapi juga memahami dampaknya secara langsung,” jelas Sopan.
Selain edukasi, pengelolaan tata ruang publik juga perlu diperhatikan agar masyarakat merasa lebih nyaman dan secara otomatis terdorong untuk menjaga kebersihan.
Persoalan sampah harus menjadi tanggung jawab kolektif yang dikerjakan bersama antara pemerintah dan warga karena dampaknya berkaitan langsung dengan kesehatan serta kualitas lingkungan daerah. “Kalau kesadaran masyarakat masih rendah, sampah akan tetap jadi persoalan yang sulit diselesaikan,” tutupnya.
Editor: Aspian Nur