Isu tersebut mencuat setelah salah seorang anggota tim lapangan mengkritik proses evakuasi. Ia menilai pencarian korban tenggelam di Loa Kulu tidak berjalan maksimal akibat keterbatasan anggaran operasional. Kondisi itu disebut membuat BPBD Kukar hanya menurunkan armada seadanya ke lokasi kejadian.
Menanggapi hal tersebut, Abdal menegaskan BPBD telah mengerahkan dua unit perahu berbahan polyethylene (fiber) dalam operasi pencarian. Jumlah tersebut bahkan lebih banyak dibanding standar operasional untuk lokasi jauh yang biasanya hanya menggunakan satu unit perahu.
“Ini bukan masalah anggaran, walaupun ada efisiensi anggaran di semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pembatasan unit murni karena pertimbangan teknis dan kebutuhan lapangan,” kata Abdal, Senin (18/5/2026).
Ia juga tekankan armada yang digunakan adalah perahu berbahan polyethylene yang dikenal lebih kuat dari perahu karet, bukan kapal besar.
Meskipun memiliki total sembilan unit perahu, menurunkan seluruh unit dinilai tidak efektif karena keterbatasan personel yang mengoperasikannya.
“Kami tegaskan menurunkan semua unit secara massal hanya akan dilakukan jika terjadi bencana skala besar seperti banjir di banyak titik sekaligus,” tegasnya.
Sementara dari sisi kekuatan personel, Abdal menyebut total anggota BPBD kini hanya sebanyak 17 orang, dengan sistem piket delapan hingga sembilan orang per jaga. Sebanyak lima hingga enam personel pun sudah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pencarian dan itu sesuai standar operasi.
“Kami dari BPBD juga tak hanya bekerja sendiri, dibantu oleh tim Basarnas dan para relawan kemanusiaan yang membawa peralatan pendukung tambahan, ini sangat membantu dalam pencarian korban,” tutupnya.
Editor: Erwin