Peristiwa tersebut mendorong dinas terkait turun tangan dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak) serta pengecekan kualitas BBM yang dijual di sejumlah pengecer.
Indah mengatakan, insiden itu terjadi pada Sabtu (9/5/2026) sekitar pukul 20.00 Wita. Saat itu, kondisi tangki bahan bakar motornya hampir kosong sehingga ia memutuskan berhenti di sebuah pom mini di wilayah Tenggarong untuk mengisi BBM.
“Bensin sudah mau habis, saya juga mau antar pesanan makanan orang, jadi mampir ke salah satu pom mini. Beli Rp20.000. Harganya Rp12.000 per liter,” kata Indah, Minggu (10/5/2026).
Ia menjelaskan, setelah pengisian selesai, dirinya sempat melanjutkan perjalanan menuju Alfamidi terdekat. Namun, kejadian tidak terduga muncul saat hendak melanjutkan perjalanan mengantar pesanan makanan. Motor yang sebelumnya normal tiba-tiba mengalami brebet, tarikan gas kosong dan akhirnya mesin mati total dan tidak bisa dinyalakan kembali. Indah langsung membawa motor tersebut ke bengkel terdekat.
“Saat dibongkar oleh mekanik bengkel, ternyata isi tangkinya bukan cuma bensin, tapi banyak campuran airnya. Saya kaget karena kerusakannya cukup parah,” jelasnya.
Akibat kejadian ini, Indah harus mengganti sejumlah komponen vital pada motornya, termasuk injektor dan busi yang rusak akibat kontaminasi air tersebut. Total biaya perbaikan yang harus dikeluarkan mencapai Rp405.000, jumlah yang jauh lebih besar dibanding nilai bensin yang dibeli.
Kejadian ini menjadi peringatan bagi warga lainnya agar lebih berhati-hati dalam memilih tempat pengisian bahan bakar eceran.
Selain itu, Indah juga meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Satpol PP untuk segera melakukan pengecekan berkala terhadap keberadaan pom mini yang kian menjamur.
Langkah ini dianggap perlu untuk memastikan hak konsumen terlindungi dan mencegah kerugian materil serupa menimpa pengendara lain.
Editor: Erwin