Dalam beberapa waktu terakhir, warga Gunung Belah hingga Bukit Biru telah melaporkan penurunan kualitas air yang sering mengecil, mati mendadak, hingga berubah warna menjadi cokelat.
Warga Gunung Belah, Fahrurozi, mengaku kesulitan menjalani aktivitas harian akibat kondisi ini air mengecil. “Kalau aliran air kran mengecil itu sering kami alami, berubah warna bahkan pernah tak mengalir,” kata Ozi, Jumat (1/5/2026).
Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno, mengatakan pihaknya telah mewaspadai potensi penurunan debit air pada anak-anak sungai yang menjadi penopang distribusi. Meski demikian, Perumda Tirta Mahakam telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.
Langkah tersebut antara lain dengan menyiapkan titik cadangan sumber air yang telah lulus uji kualitas untuk digunakan apabila sumber utama mengalami penyusutan debit.
Selain itu, Perumda Tirta Mahakam mengintegrasikan tiga IPA yang berada di Bekotok, Bukit Biru, dan Sukarame agar dapat saling menopang suplai antarwilayah saat terjadi gangguan.
Pihaknya juga melakukan uji coba penggunaan teknologi membran untuk mengatasi kekeruhan ekstrem pada Sungai Tenggarong, sehingga kualitas air olahan tetap terjaga.
Di samping itu, pihaknya bekerja sama dengan pihak ketiga guna mewujudkan layanan air bersih selama 24 jam di seluruh wilayah pelayanan.
“Kami sudah mengetahui kalau masih ada wilayah yang belum terlayani 24 jam karena keterbatasan kapasitas. Percepatan peningkatan produksi jadi prioritas kami saat ini,” ungkapnya.
Suparno mengajak masyarakat untuk bijak dalam menggunakan air dan tetap menyediakan penampungan mandiri sebagai langkah antisipasi selama masa transisi musim kemarau berlangsung.
Editor: Erwin