Humas Perumda Tirta Mahakam Tenggarong, Hendri, mengatakan keterbatasan infrastruktur mesin menjadi kendala utama dalam memperluas jangkauan pasar.
Ia menjelaskan, kapasitas mesin produksi yang ada saat ini belum mampu memenuhi permintaan dalam skala besar. Dalam satu hari, produksi maksimal hanya mencapai 200–250 dus untuk kemasan gelas serta 70–100 dus untuk kemasan botol ukuran 330 mililiter.
“Kendala kita saat ini adalah mesin yang kapasitasnya masih kecil. Jika ada penambahan alat, kami yakin produksi bisa meningkat hingga dua kali lipat, sehingga distribusi ke masyarakat bisa lebih cepat dan luas,” kata Hendri, Kamis (30/4/2026).
Selain masalah teknis mesin, Tuah Bumi juga belum mendapatkan kerja sama strategis dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar.
Hingga saat ini, produk lokal ini belum menjadi pilihan utama dalam acara-acara kedinasan, rapat dinas, maupun event besar yang diselenggarakan oleh pemerintah.
“Harapan kami, pemerintah daerah bisa mengatur kerja sama agar setiap acara dinas menggunakan Tuah Bumi. Sebagai produk lokal, dampaknya akan sangat positif,” harapnya.
Permasalahan potensi pendapatan untuk daerah ini dinilai sangat krusial, sebab Tuah Bumi merupakan unit bisnis di bawah naungan Perumda Tirta Mahakam.
Artinya, setiap peningkatan produksi dan pendapatan akan langsung berdampak pada deviden atau setoran modal kembali ke Perumda Tirta Mahakam sebagai pemegang saham utama.
“Jika produksi meningkat, pendapatan juga otomatis naik. Hasilnya akan kita kembalikan lagi ke PDAM. Jadi dari segi ekonomi, ini sangat menguntungkan daerah jika didukung penuh,” tegasnya.
Pihaknya kini sangat menantikan dukungan nyata dari Perumda Tirta Mahakam selaku induk perusahaan untuk pembaharuan alat produksi, serta dorongan dari pemerintah daerah untuk memprioritaskan produk lokal demi pertumbuhan ekonomi Kukar.
Editor: Erwin