Sidak ke pasar di Tenggarong ini dilakukan untuk memastikan optimalisasi pengelolaan pasar berjalan maksimal demi kesejahteraan masyarakat. Langkah ini diambil setelah adanya rentetan aduan dari pedagang dan masyarakat yang masuk ke meja legislatif.
Yani menekankan pasar yang dibangun dengan anggaran rakyat hampir mencapai Rp500 Miliar ini harus benar-benar menjadi urat nadi ekonomi, bukan justru membebani warga.
Satu diantara poin utama yang disoroti adalah masih banyaknya akses pintu dan portal yang tertutup. Ia langsung memerintahkan agar seluruh pintu pasar dibuka lebar mulai hari ini.
"Falsafah orang berdagang itu sederhana, pintu harus dibuka. Kalau pintu pasar tertutup, itu namanya menghalangi rezeki. Bagaimana orang mau masuk kalau aksesnya terbatas. Saya minta hari ini semua pintu dan portal dibuka selebar-lebarnya agar aliran ekonomi lancar," ucap Yani disela sidak kepada Korankaltim.com.
Untuk memicu keramaian di dalam pasar, Ketua DPRD meminta agar biaya parkir sementara waktu digratiskan. Hal ini bertujuan agar masyarakat yang selama ini parkir di pinggir jalan mau masuk ke area dalam pasar.
"Kami pastikan sementara parkir gratis dulu. Tujuannya supaya mereka parkir di dalam dan saat berjalan menuju kendaraan, mereka melirik jualan pedagang lalu membeli. Kalau parkir di luar, mereka tidak akan belanja di sini," sebut Yani.
Terkait keluhan mahalnya retribusi, Ketua DPRD Kukar membuka peluang untuk merevisi Peraturan Daerah (Perda) jika tarif yang ada saat ini dianggap memberatkan pedagang yang baru memulai usahanya.
Pemerintah jangan dulu mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) jika pasar belum ramai. "Jangan menyusahkan masyarakat yang mau mulai usaha. Kalau Rp600 Ribu kemahalan tawar jadi Rp500 Ribu, kenapa tidak? Nanti kalau sudah ramai dan omzet pedagang meledak, baru kita bicarakan kenaikan. Sekarang fokusnya memudahkan dulu," tegas Yani.
Peringatan keras diberikan kepada pengelola agar tidak ada kios yang kosong sementara banyak warga yang ingin berjualan. Namun, ia menekankan agar lapak diberikan kepada pedagang asli, bukan spekulan.
"Jangan sampai lapak ini ditransaksikan atau dipindahtangankan untuk bisnis sewa. Harus diberikan kepada yang betul-betul ingin menjual. Kita akan seleksi pengalamannya apa dan mau jual apa, supaya pasar ini hidup dan tertata," tutup Yani.
Editor: Aspian Nur