“Di tengah kondisi keuangan daerah yang tidak sebesar dulu, kita harus pandai melihat peluang. Salah satunya kratom, yang hari ini sudah menjadi tanaman unggulan,” katanya kepada korankaltim.com, Selasa (31/3/2026).
Kratom sendiri yang memiliki nama latin Mitragyna speciosa adalah tumbuhan tropis dari famili kopi (Rubiaceae), berasal dari Asia Tenggara. Daunnya mengandung senyawa aktif yang memiliki efek ganda: stimulan (perangsang) dosis rendah dan sedatif (penenang/opioid) dosis tinggi, sering digunakan secara tradisional untuk meningkatkan energi atau meredakan nyeri.
Produksi kratom di Kutai Kartanegara saat ini mencapai 200 hingga 300 ton per bulan. Komoditas tersebut dihasilkan oleh lebih dari 12 ribu petani yang tersebar di sejumlah wilayah, terutama di Kecamatan Kota Bangun hingga Tabang, serta sebagian di Loa Kulu dan Tenggarong Seberang.
Rendi menyoroti tingginya nilai ekonomi kratom, khususnya dalam bentuk ekstrak. Ia menyebut harga ekstrak kratom di pasar internasional bisa mencapai 2.000 hingga 3.000 dolar AS per kilogram.
“Kalau sudah menjadi ekstrak, nilainya sangat tinggi. Satu kilogram bisa setara harga satu unit motor Nmax,” papar Rendi.
Dengan asumsi produksi bersih sekitar 100 ton per tahun, potensi nilai ekonomi kratom diperkirakan bisa mencapai hingga Rp300 miliar. Angka tersebut dinilai mampu menjadi sumber ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.
“Ini peluang besar yang harus kita tangkap bersama. Kratom bisa menjadi komoditas ekspor unggulan Kutai Kartanegara,” tegasnya.
Kecamatan Tenggarong Seberang jadi satu dari pusat produksi utama kratom di Kalimantan Timur, bahkan menjadi yang terbesar kedua di Indonesia setelah Kalimantan Barat. Keunggulan lain yang dimiliki Kukar adalah keberadaan fasilitas pengolahan kratom menjadi ekstrak di Tenggarong Seberang yang disebut belum dimiliki daerah lain, termasuk Kalimantan Barat.
“Ini menjadi nilai tambah bagi kita. Kita tidak hanya produksi bahan mentah, tapi juga sudah sampai tahap pengolahan,” papar Rendi.
Pemerintah daerah berkomitmen mendorong pengembangan industri kratom dari hulu hingga hilir, termasuk mendukung pelaku usaha pengolahan agar mampu memenuhi permintaan pasar global yang terus meningkat.
Sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Thailand, hingga Ceko disebut menjadi pasar potensial bagi produk kratom. Selain itu, kratom juga memiliki beragam produk turunan bernilai tinggi, mulai dari bahan kosmetik, kebutuhan farmasi, hingga suplemen untuk minuman energi.
Di pasar domestik, produk energi seperti Extra Joss, Kratingdaeng, dan M-150 dikenal luas. Sementara di pasar global terdapat merek seperti Monster Energy dan Red Bull.
Rendi optimistis dengan pengelolaan yang tepat dan dukungan semua pihak, kratom dapat menjadi pilar baru ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Ini bukan hanya soal komoditas, tapi bagaimana kita membangun ekonomi masyarakat dari potensi lokal yang kita miliki,” pungkas Rendi.
Editor: Aspian Nur