“Ini berdasarkan laporan masyarakat. Ada isu-isu soal permainan harga, ada yang mau menaikkan harga sewa. Itu yang ingin kita pastikan, benar atau tidak,” ujar Rendi kepada media disela sidak pagi tadi.
Didampingi Sekretaris Daerah Kukar Sunggono serta pihak dari Kejaksaan Negeri Tenggarong guna memastikan pengawasan berjalan maksimal, Rendi menyebut isu yang beredar tidak boleh dianggap sepele, mengingat Tangga Arung Square saat ini tengah dalam tahap pemulihan dan pengembangan sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
“Jangan sampai isu ini benar dan justru meresahkan, padahal Tangga Arung Square ini baru mau bangkit. Disatu sisi ingin meningkatkan layanan dan fasilitas, tapi di sisi lain ada oknum yang mencoba mengambil keuntungan,” tegasnya.
Pemkab mendapat informasi adanya dugaan permainan harga hingga mencapai Rp10 Juta serta indikasi keterlibatan sejumlah oknum. Meski belum dapat memastikan jumlahnya, ia menilai isu tersebut perlu ditelusuri serius.
“Kalau ada asap pasti ada api. Artinya mungkin ada oknum yang memanfaatkan situasi ini. Makanya kami gandeng Kejaksaan untuk memastikan, kalau terbukti harus segera ditindak,” sebut Rendi lagi.
Evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan pasar juga diminta dilakukan, termasuk dugaan keterlibatan aparatur sipil negara (ASN) di luar dinas terkait.
“Kami minta Dinas Pasar segera evaluasi. Jangan sampai ada ASN dari luar dinas yang ikut mengelola. Ini meresahkan dan tidak boleh dibiarkan,” ucap Rendi lagi.
Media dan masyarakat diberi ruang untuk turut aktif melaporkan dugaan pelanggaran di lapangan. “Kami butuh dukungan, termasuk dari media. Kalau ada informasi, sampaikan ke kami. Tanpa laporan sulit bagi kami untuk bertindak,” tambahnya.
Rendi turut menyoroti rencana kenaikan tarif lapak untuk pedagang kecil, khususnya area permainan di teras pasar yang disebut-sebut akan naik dari Rp2.000 menjadi Rp5.000 per meter per hari. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak tepat dan berpotensi memberatkan pedagang kecil, apalagi jika dibandingkan dengan standar pusat perbelanjaan modern seperti Big Mall Samarinda.
“Tangga Arung Square ini bukan Big Mall. Kami fokus membantu pedagang menengah ke bawah agar bisa bangkit. Tidak bisa dibandingkan dengan pusat perbelanjaan besar,” tegasnya.
Pemerintah daerah dipastikan menjaga agar Tangga Arung Square tetap menjadi ruang ekonomi yang berpihak kepada pedagang kecil. “Kami ingin ekonomi di sini bangkit. Kalau ada yang coba-coba memainkan harga, tidak ada celah. Kami awasi bersama,” tutup Rendi.
Editor: Aspian Nur