Kondisi tersebut diprediksi bakal menggoyang stabilitas harga pasar jika tidak segera ditangani secara serius.
Salah seorang petani di Kukar, Mulyadi mengungkapkan, cuaca panas yang terjadi secara berturut-turut mulai berdampak langsung pada tanaman di ladang. Kurangnya intensitas hujan memaksa para petani bekerja ekstra keras untuk menjaga kelembapan tanah.
“Sudah hampir tiga hari berturut-turut panas terik terus. Ini lumayan berpengaruh bagi kami para pekerja tani. Kalau sudah sulit air perawatan jadi lebih berat,” kata Mulyadi, Jumat (27/3/2026).
Guna mengantisipasi gagal panen akibat kekeringan, para petani terpaksa melakukan penyiraman secara manual maupun mekanis dengan frekuensi yang lebih tinggi. Bahkan, dalam kondisi darurat, petani sering kali harus bersinergi dengan pihak luar untuk memasok air ke lahan pertanian.
“Untuk mengantisipasi kemarau ini, kami rajin semprot air. Kadang kami juga minta bantuan pemadam. Kalau air sulit didapat, dampaknya pasti ke hasil panen,” tambahnya.
Diakuinya, kekhawatiran terbesar petani adalah terjadinya lonjakan harga bahan pokok (bapok) di pasar tradisional. Mulyadi menyebut komoditas sensitif seperti cabai, bawang, dan beras sangat bergantung pada kelancaran irigasi.
Jika produksi menurun akibat kemarau, maka harga di pasar yang baru saja mulai melandai pascalebaran dipastikan akan kembali melonjak.
“Apalagi kemarin harga cabai dan bawang sudah naik saat Ramadan dan Lebaran. Kalau ditambah kemarau lagi, ya bisa-bisa naik lagi harganya. Ini tentu akan mempengaruhi harga pasar dan daya beli masyarakat lagi,” ungkapnya.
Dirinya berharap, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar dapat segera melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan memastikan ketersediaan sarana pompa air bagi kelompok tani guna menjaga ketahanan pangan daerah.
Editor: Erwin