Saat arus mudik dan memasuki arus balik Idulfitri 1447 Hijriah, keberadaan feri tradisional tetap diandalkan untuk mobilitas warga, termasuk dalam mengangkut kendaraan roda dua hingga roda empat.
Salah satu pemilik feri, Junai, memastikan tarif penyeberangan tidak mengalami perubahan selama periode Lebaran.
“Sama seperti hari-hari biasa kami kenakan tarif Rp5 ribu untuk satu motor dan Rp20 ribu sampai Rp25 ribu untuk mobil,” katanya kepada Korankaltim.com, Jumat (27/3/2026).
Ketergantungan terhadap transportasi ini juga dirasakan para pekerja. Adi, warga Sebulu, yang setiap hari menyeberang ke Tenggarong untuk bekerja, mengaku feri tradisional menjadi pilihan paling efisien.
“Saya setiap hari pakai feri ini untuk kerja ke Tenggarong. Selain lebih cepat, biayanya juga terjangkau. Kalau tidak ada ini, cukup sulit akses kami,” ujarnya.
Di sisi lain, aspek keselamatan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sekretaris Dinas Perhubungan Kukar, Yudi Apidiantara menegaskan pihaknya akan meningkatkan monitoring terhadap operasional feri tradisional.
Langkah tersebut dilakukan menyusul sejumlah insiden kecelakaan dalam beberapa bulan terakhir, termasuk peristiwa tenggelamnya kapal feri tradisional di wilayah Kecamatan Sebulu dan Muara Muntai.
Pemerintah berharap layanan penyeberangan tetap berjalan lancar selama periode Lebaran, namun dengan peningkatan pengawasan guna menjamin keselamatan penumpang dan kendaraan yang diangkut.
“Kami akan melakukan monitoring secara berkala untuk memastikan operasional penyeberangan berjalan sesuai standar keselamatan, mengingat kejadian sebelumnya menjadi perhatian serius,” tegasnya.
Editor: Erwin