Di usia yang baru menginjak 6 tahun, Ashura berhasil menembus posisi tujuh besar dalam ajang Hafiz Indonesia 2026 yang tayang di RCTI selama Ramadan 1447 Hijriah tahun ini.
Capaian ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan spiritual sekaligus perjuangan panjang Ashura bersama keluarga. Rasa syukur pun disampaikan atas dukungan luas yang terus mengalir sejak awal hingga kini.
“Masya Allah, Alhamdulillah sampai di sini perjalanan ananda kami. Terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan dari berbagai kalangan. Semoga Allah meridhoi dan menjadikannya ladang pahala untuk kita semua,” ungkap Ayah Ashura, Wahyu Rahmadi kepada Korankaltim.com, Rabu (18/3/2026).
Dukungan datang dari berbagai elemen, mulai dari keluarga besar di Muara Kaman, Tenggarong, hingga Banjarmasin, serta jajaran pemerintah daerah Kaltim dan Kukar, tokoh masyarakat, hingga masyarakat luas.
Perjalanan Ashura menuju panggung nasional bukanlah kisah yang instan. Wahyu Rahmadi, menuturkan bahwa ikhtiar membentuk anak sebagai penghafal Al-Qur’an telah dimulai sejak dalam kandungan. Kebiasaan memperdengarkan murottal menjadi bagian dari keseharian, bahkan di saat-saat sulit.
Ashura sempat didiagnosis hidrosefalus saat bayi, sebuah ujian berat yang justru semakin menguatkan tekad keluarga. Murottal diperdengarkan tanpa henti selama masa tersebut, hingga akhirnya muncul kejutan di usia 2 tahun 4 bulan, Ashura telah menghafal Juz 30.
Kemampuan itu terus berkembang. Dalam waktu relatif singkat, ia berhasil menambah hafalan hingga kini menguasai lima juz, yakni Juz 1, 2, 28, 29, dan 30.
Metode pembelajaran juga diperkuat melalui kajian, termasuk dari Adi Hidayat, yang memberikan pemahaman tentang tahapan efektif dalam menghafal Al-Qur’an.
Ujian kembali datang saat menjelang audisi Hafiz Indonesia. Ashura mengalami patah tulang paha kiri akibat terjatuh dan harus menjalani perawatan di RSUD A.M. Parikesit selama 16 hari. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Ia tetap mengulang hafalan bahkan dari tempat tidur rumah sakit.
“Perawat dan dokter senang melihat dia. Di rumah sakit pun dia terus menghafal,” kenang Wahyu.
Hebatnya, hari pertama keluar dari rumah sakit langsung menjadi hari audisi pertama. Dalam kondisi pemulihan, Ashura mampu menjawab seluruh pertanyaan penguji dan melaju hingga tahap demi tahap, mengungguli ribuan peserta dari dalam dan luar negeri.
Kini, keberhasilan menembus tujuh besar semakin mengukuhkan posisi Ashura sebagai salah satu peserta yang diperhitungkan. Lebih dari sekadar kompetisi, perjalanannya menjadi simbol keteguhan, doa, dan kekuatan pendidikan keluarga.
Bagi kedua orang tuanya, pencapaian ini bukan semata tentang kemenangan di panggung nasional, melainkan bagian dari cita-cita besar membesarkan anak di jalan Al-Qur’an.
“Bukan soal juara. Kami hanya ingin dia tumbuh bersama Al-Qur’an. Itu saja sudah cukup membahagiakan,” ucap Wahyu.
Dari Muara Kaman, kisah Ashura terus menyala sebagai inspirasi bahwa di tengah keterbatasan dan ujian, selalu ada jalan menuju cahaya bagi mereka yang bersungguh-sungguh menjaganya.
“Kami atas nama keluarga Ashur mengucapkan terima kasih atas dukungan dari berbagai kalangan, Keluarga Besar Muara Kaman, Keluarga Besar Tenggarong dan Banjarmasin, Bapak Gubernur Kaltim dan Istri, Bapak Wakil Gubernur Kaltim dan Istri, Bapak Bupati Kukar dan Istri, Bapak Abdul Rasid Wakil Ketua DPRD Kukar dan Istri, Bapak Sarkowi Anggota DPRD Provinsi Kaltim dan Istri, Bapak Kamarul Zaman Anggota DPRD Kukar dan Istri, Bapak H. Syamsudin Baba dan Istri, Segenap pemerintah Kecamatan dan Desa Muara Kaman, Kecamatan Muara kaman, Bapak Haji Nan Kades Benua Puhun dan Istri, serta segenap seluruh masyarakat Kutai Kartanegara Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan,” tutupnya.
Editor: Erwin