Prosesi sakral ini diawali dengan berkumpulnya umat di Pura Payogan Agung Kutai yang terletak di Kelurahan Loa Ipuh. Dari lokasi tersebut, ratusan umat Hindi kemudian berjalan bersama menuju kawasan pelabuhan di depan Museum Mulawarman untuk melaksanakan ritual penyucian.
Melasti merupakan bagian penting dalam rangkaian perayaan Nyepi. Ritual ini bertujuan untuk menyucikan diri dan alam semesta dari segala kotoran, baik secara lahir maupun batin, dengan menggunakan air sebagai simbol pembersihan.
Sekretaris pengurus Pura Payogan Agung Kutai I Nyoman Sunarbawa menjelaskan, kegiatan Melasti tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga menjadi momentum mempererat kebersamaan antarumat.
“Melasti adalah proses penyucian diri sebelum memasuki Hari Raya Nyepi. Selain itu, ini juga menjadi ajang kebersamaan dan memperkuat rasa persaudaraan di antara umat Hindu di Kukar, se Kukar jadi semua Pura dan desa yang ada di Kukar semuanya berkumpul di Pelabuhan untuk kita sama-sama menggelar Melasti,” kata Sunarbawa kepada Korankaltim.com disela kegiatan Melasti.
Sepanjang prosesi, umat membawa pratima dan berbagai perlengkapan upacara dengan iringan doa dan kidung suci. Suasana berjalan dengan tertib dan penuh kekhusyukan, mencerminkan nilai-nilai religius yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Hindu setempat.
Ritual yang berlangsung di tepian Sungai Mahakam ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar. Tidak sedikit warga yang turut menyaksikan jalannya prosesi dengan penuh rasa hormat. Selanjutnya Sunarbawa menegaskan saat ini pihaknya tengah melakukan persiapan kegiatan Pengrupukan yakni adanya parade patung ogoh-ogoh yang ada dilaksanakan besok malam.
“Melalui Melasti, umat Hindu di Kukar diharapkan dapat memasuki Hari Raya Nyepi dengan hati yang bersih, damai, dan penuh kesadaran spiritual. Kegiatan ini sekaligus menjadi cerminan harmonisasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang terus dijaga dari generasi ke generasi,” tutup Sunarbawa.
Editor: Aspian Nur