Mengusung tema “Akar Sampai”, kegiatan ini menghadirkan kolaborasi musik, tari, teater, hingga pidato kebudayaan yang berlangsung hingga menjelang sahur.
Pimpinan produksi Fahrul Yamani menjelaskan tema tersebut menjadi metafora perjalanan kesenian yang tumbuh dari akar tradisi dan berkembang menjadi cabang-cabang baru yang relevan dengan zaman.
“Ramadan tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga ruang refleksi kebudayaan. Melalui Sahurmayur, kami ingin mempertemukan seniman lintas generasi dalam satu ruang dialog,” ujarnya dikonfirmasi Korankaltim.com, Minggu (8/3/2026).
Beragam kelompok seni tampil meramaikan panggung. Kelompok musik Ratna Citra membuka pertunjukan dengan nuansa indie folk yang mengolah musik tingkilan secara modern. Sementara band UTTHANA dari Samarinda yang digawangi mahasiswa etnomusikologi Universitas Mulawarman menyuguhkan perpaduan folk alternatif dengan unsur etnik Nusantara. Penampilan lain datang dari Petala Borneo Indonesia yang memadukan musik Melayu Kutai dengan instrumen modern.
Pada segmen tari, koreografer Marie M bersama kolektif Dans Z menghadirkan pertunjukan yang mengeksplorasi tubuh sebagai “arsip pengalaman”, memadukan gerak tradisi dan kontemporer.
Pertunjukan kemudian berlanjut dengan pementasan teater berjudul Tepuk Tangan Terakhir, produksi Lanjong Indonesia, yang mengangkat refleksi tentang posisi seniman di tengah masyarakat melalui pendekatan meta teater.
Malam itu juga diisi pidato kebudayaan oleh Dadang Ari Murtono yang menekankan pentingnya menjaga akar budaya di tengah percepatan zaman. “Kesenian tidak boleh sekadar menjadi dekorasi, tetapi tetap menjadi ruang kritik dan pengingat identitas,” ujarnya.
Ketua Lanjong Indonesia, Kosis A Horen, mengatakan Sahurmayur merupakan upaya membangun ekosistem kesenian yang berkelanjutan sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk bereksperimen tanpa meninggalkan tradisi.
Acara ini turut menarik perhatian penonton dari berbagai daerah di Kaltim. Salah satunya Risky Devi yang datang dari Balikpapan. Ia mengaku terkesan dengan konsep sahur yang dipadukan dengan festival seni. “Atmosfernya hangat sekali. Rasanya seperti sahur di tengah festival budaya,” katanya.
Menjelang waktu sahur, Amphitheater Ladaya masih dipenuhi perbincangan seniman dan penonton. Sahurmayur edisi ke-14 pun menjadi lebih dari sekadar pertunjukan, melainkan ruang perjumpaan gagasan yang menunjukkan bahwa kesenian tetap berakar pada tradisi sekaligus terus tumbuh ke arah masa depan.
Editor: Erwin