Tingginya permintaan protein dari puluhan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) membuat pemerintah daerah harus mencari cara untuk memastikan ketersediaan pasokan telur.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, mengatakan telur menjadi komoditas yang paling sulit dipenuhi dalam mendukung program tersebut.
"Yang kurang di Kukar ini memang pasokan telur. Makanya tahun ini bupati memerintahkan kami untuk membangun 37 kandang ayam petelur di semua kecamatan se-Kukar untuk memastikan kebutuhan gizi anak-anak tidak bergantung dari luar daerah," kata Sunggono, Jumat (6/3/2026).
Selain membangun kandang, Pemkab Kukar juga menyiapkan rantai pasok pakan ayam melalui kerja sama dengan Koperasi Merah Putih agar pengelolaan kandang di tiap wilayah bisa berjalan berkelanjutan dan mandiri.
Sementara untuk kebutuhan lainnya seperti beras premium, ikan, daging, dan sayur, laporan dari SPPG menunjukkan sebagian besar sudah mampu dipenuhi oleh petani dan nelayan lokal.
“Kami telah memetakan kebutuhan SPPG di seluruh wilayah Kukar, dan tercatat kita memerlukan sekitar 174 unit untuk memastikan distribusi dan produktivitas petani berjalan optimal," ungkapnya.
Koordinator Wilayah MBG Kukar, Sandi Rizki, menyebut saat ini baru 31 unit yang resmi beroperasi, sisanya sedang dikejar pembangunannya. Setiap unit SPPG nantinya akan memberdayakan tenaga kerja lokal secara masif.
Meskipun terkendala pasokan telur, Pemkab Kukar optimis program ini akan memberikan efek domino bagi ekonomi rakyat. Selain menurunkan angka stunting melalui pemenuhan gizi di sekolah, sirkulasi uang akan berputar di desa karena bahan baku dibeli langsung dari warga.
"Saya harap gizi anak-anak terpenuhi sehingga mereka bisa fokus belajar. Di sisi lain, ekonomi lokal bergerak karena kita menggunakan bahan baku dan pekerja lokal," tutupnya.
Editor: Erwin