Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas tingginya volume sampah di Kukar yang mencapai 354 ton setiap harinya. Angka tersebut bukan sekadar beban lingkungan, melainkan potensi ekonomi jika dikelola dengan tepat.
Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, mengatakan edukasi akan menjadi pilar utama dalam program ini.
Tujuannya, agar warga memiliki keterampilan teknis untuk mengubah limbah rumah tangga menjadi produk bernilai.
“Kami ingin masyarakat untuk memanfaatkan sampah-sampah yang memiliki nilai ekonomis. Kami juga akan berikan mereka pelatihan,” ujar Tri Joko, Minggu (1/3/2026).
Ia menjelaskan, beberapa peluang bisnis yang ditekankan antara lain pengelolaan limbah sisa makanan untuk dijadikan pupuk kompos, limbah plastik juga didorong untuk diolah kembali menjadi produk konstruksi seperti paving block.
Kata dia, dengan terolahnya sampah di tingkat rumah tangga atau komunitas, beban sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bekotok Tenggarong dapat berkurang.
“Ini kalau kita rutin kerjakan tentu bisa mengurangi volume sampah, sehingga tidak terjadi penumpukan TPA,” tambahnya.
Melalui program pendampingan ini, DLHK Kukar berharap kepada masyarakat tidak hanya berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mendapatkan keuntungan finansial dari mengelola sampah.
Editor: Erwin