Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, mengungkapkan bahwa anak-anak di Dusun Damai masih menggunakan jembatan darurat berupa kereta gantung konvensional sebagai satu-satunya sarana untuk menyeberangi sungai menuju sekolah.
“Semoga supaya diperhatikan. Anggaran itu kan tidak tahu di mana untuk pejalan kaki. Sudah kami usulkan, tapi tidak tahu anggarannya ke mana,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (26/2/2026).
Menurut Heri, di wilayahnya terdapat dua titik jembatan yang menjadi perhatian. Pertama, jembatan rusak di RT 16 yang selama ini dilalui kendaraan roda dua dan roda empat sebagai akses menuju tempat ibadah. Kedua, jembatan gantung menggunakan katrol manual yang menjadi akses utama anak-anak Dusun Damai RT 009 menuju SD 021 dan SD 024.
Jembatan gantung tersebut bukanlah fasilitas permanen dari pemerintah, melainkan kereta gantung buatan swadaya masyarakat yang telah digunakan sekitar dua hingga tiga tahun terakhir. Sistemnya sederhana, berupa kereta kecil yang ditarik menggunakan katrol untuk menyeberangi sungai.
“Yang jembatan gantung pakai katrol itu akses satu-satunya. Sudah berlangsung dua sampai tiga tahun. Memang kereta gantung buatan sendiri,” jelasnya.
Operasional kereta gantung itu dijalankan oleh relawan warga setempat. Pembiayaannya pun dianggarkan melalui Alokasi Dana Desa (ADD). Tercatat ada lima unit kereta gantung katrol di beberapa titik penyeberangan sungai di desa tersebut. Selain untuk akses sekolah, sarana itu juga dimanfaatkan warga menuju kebun atau mengangkut hasil panen.
“Yang paling dioptimalkan memang untuk akses anak sekolah,” tegas Heri.
Ia menambahkan, kondisi tersebut sebelumnya telah ditinjau langsung oleh Bupati Kukar saat itu, Edi Damansyah. Bahkan, sempat ada pendataan dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kukar terkait kebutuhan pembangunan jembatan.
“Sudah ditengok Pak Edi Damansyah dulu, tapi belum ada realisasinya. Waktu booming program jembatan anak sekolah dari Pak Prabowo juga sudah ada pendataan, tapi sampai sekarang belum terealisasi,” ungkapnya.
Program yang dimaksud Heri adalah pembangunan jembatan untuk anak sekolah yang sebelumnya digaungkan Presiden Prabowo Subianto dalam agenda prioritas pembangunan infrastruktur dasar.
Saat ini, kebutuhan jembatan permanen tidak hanya mendesak di Dusun Damai, tetapi juga di Dusun Wonorejo. Heri berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera merealisasikan pembangunan tersebut guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Kondisi ini menjadi gambaran nyata tantangan pembangunan infrastruktur di wilayah pedesaan. Di satu sisi, semangat gotong royong masyarakat patut diapresiasi. Namun di sisi lain, kebutuhan akan jembatan permanen yang aman dan layak menjadi hal mendesak, terutama terkait keselamatan anak-anak yang setiap hari harus menghadapi risiko demi mengenyam pendidikan.
“Harapannya secepatnya direalisasikan sebelum muncul korban. Apalagi Bupati Aulia saat ini juga konsen betul di dunia pendidikan,” harapnya.
Editor: Erwin