Dibalik capaian itu, tersimpan kisah perjuangan, doa dan keteguhan hati orang tua yang sejak awal bercita-cita memiliki anak penghafal Al-Qur’an.
Ayah Ashura Wahyu Rahmadi menjelaskan, ikhtiar itu sudah dimulai bahkan sejak buah hatinya masih dalam kandungan.
“Alhamdulillah, saya dan istri memang ingin punya anak penghafal Alqur’an. Saat usia kandungan delapan bulan, kami sudah mendengarkannya murottal setiap hari,” kata Wahyu kepada Korankaltim.com, Jumat (20/2/2026).
Kebiasaan itu berlanjut setelah Ashura lahir. Meski di awal belum intens, murottal tetap diperdengarkan secara rutin sampai sebuah ujian besar datang, Ashura divonis hidrosefalus saat masih bayi. “Ketika dia sakit hidrosefalus, kami nonstop 24 jam setelkan murottal sampai usia dua tahun,” kenang Wahyu.
Tak disangka, pada usia 2 tahun 4 bulan, Ashura menunjukkan tanda-tanda luar biasa. Ia ternyata telah menghafal Juz 30. “Kami kaget sekali. Waktu kami coba tanpa murottal, buka Alquran, dia bisa baca sendiri sampai satu juz selesai,” tuturnya haru.
Metode pembelajaran juga diperkuat dengan mengikuti majelis-majelis online, termasuk kajian dari Ustaz Adi Hidayat (UAH). Dari sana, orang tua Ashura mendapatkan metode bahwa ketika seorang anak telah menguasai Juz 30, maka juz-juz berikutnya akan lebih mudah dihafalkan.
Benar saja. Dalam beberapa bulan berikutnya, Ashura menghafal Juz 29. Disusul Juz 1 dan 2, termasuk Surah Al-Baqarah. Kini, anak pertama dari pasangan Wahyu Rahmadi dan Rahma Saputri itu telah menghafal lima juz: 1, 2, 28, 29, dan 30.
Tahun ini, sebenarnya keluarga belum menargetkan Ashura mengikuti Hafiz Indonesia. Mereka berencana mendaftarkannya pada usia 7 atau 8 tahun.
Namun momentum berubah saat pelaksanaan MTQ tingkat Kecamatan Muara Kaman 2025. Keluarga yang kini menetap di Tenggarong itu justru tidak mendapat informasi tentang ajang tersebut.
“Padahal itu yang kami tunggu untuk melihat sejauh mana kemampuan dia. Kami sedih sekali sampai meneteskan air mata,” ungkap Wahyu.
Bukan soal gelar juara, melainkan kesempatan melihat sang anak tampil di jalur yang mereka yakini sebagai masa depannya Ashura yakni Alquran.
Dari kesedihan itulah, pasangan ini mencari alternatif lain. Mereka menemukan informasi pendaftaran Hafiz Indonesia melalui situs resmi dan media sosial. Saat itu, pendaftaran baru dibuka pada Agustus.
Tanpa ragu, mereka mendaftarkan Ashura meski usianya baru enam tahun. Proses administrasi dilalui hingga akhirnya dinyatakan lolos seleksi berkas dan berhak mengikuti audisi online tiga tahap.
Cobaan kembali datang. Menjelang audisi, Ashura terjatuh saat bermain bersama adiknya dan mengalami patah tulang paha kiri dan harus menjalani perawatan selama 16 hari di RSUD A.M. Parikesit Tenggarong Seberang. Namun semangatnya tak surut. Di ruang perawatan, Ashura tetap mengulang hafalan.
“Perawat dan dokter senang sekali melihat dia. Di rumah sakit pun dia terus menghafal,” ujar Wahyu.
Hari pertama keluar dari rumah sakit langsung menjadi hari audisi pertama. Meski dalam kondisi pemulihan, Ashura mampu menjawab seluruh pertanyaan penguji. Ia lolos ke tahap berikutnya.
Audisi kedua dan ketiga pun berhasil dilalui. Dari total lebih dari 3.000 pendaftar, sekitar 1.300 mengikuti seleksi online dan hampir 2.000 lainnya melalui jalur lain, termasuk peserta dari luar negeri seperti Jepang, dan Ashura dinyatakan terpilih.
Kini, Ashura telah berada di Jakarta untuk menjalani masa karantina. Selama proses tersebut, hanya satu orang tua yang diperkenankan mendampingi, yakni sang ibu.
Perjalanan Ashura membuktikan kesungguhan, doa, dan konsistensi orang tua mampu menumbuhkan keajaiban. Dari bayi yang berjuang melawan hidrosefalus, patah tulang di tengah seleksi, hingga akhirnya berdiri sebagai wakil Kukar di panggung nasional.
Bagi Wahyu dan Rahma, pencapaian ini bukan sekadar tampil di televisi nasional melainkan bagian dari cita-cita besar membesarkan anak di jalan Al-Qur’an. Kisah Ashura menjadi inspirasi bahwa dari Muara Kaman, dengan keterbatasan dan ujian yang silih berganti, lahir semangat besar menuju cahaya Alquran.
“Bukan soal juara. Kami hanya ingin dia tumbuh bersama Alquran. Itu saja sudah cukup membahagiakan,” tutup Wahyu.
Editor: Aspian Nur