Leduman meriam yang terbuat dari kayu ini sudah menjadi tradisi turun-temurun selama 50 tahun. Jusman, warga Jantur menjelaskan, pembuatan leduman ini prosesnya memakan waktu cukup lama dan membutuhkan tenaga ekstra warga untuk membuatnya.
"Leduman ini masih dalam proses pembelahan kayu. Biasanya pengerjaannya memakan waktu sampai satu bulan penuh yang dikerjakan secara gotong royong oleh warga," kata Jusman kepada Korankaltim.com Senin (16/2/2026).
Tahun ini warga mempersiapkan dua buah leduman dengan biaya pembuatan meriam tradisional ini tidak sedikit. Satu batang pohon bahan baku Leduman bisa memakan biaya hingga Rp7 Juta.
"Untuk mengolah satu batang pohon itu kami menghabiskan biaya sekitar Rp7 Juta. Dana yang dikeluarkan dari Pemdes (Pemdes) yang memang sudah dipersiapkan. Tahun ini kami buat dua leduman," paparnya.
Bagi masyarakat Jantur, Ramadan terasa kurang lengkap tanpa suara leduman. Selain sebagai simbol penyambutan bulan suci Ramadan, benda tersebut juga memiliki fungsi vital sebagai penanda waktu berbuka.
"Fungsinya untuk menandakan adzan Maghrib dan waktu buka puasa karena dulu belum ada masjid sebagai penanda waktu berbuka maka leduman lah yang digunakan warga. Tradisi ini sudah hampir 50 tahun terjaga," ungkap Jusman.
Diharapkan semangat kebersamaan dalam pembuatan leduman ini tidak luntur tergerus oleh zaman. "Kami berharap tradisi ini terus dijaga oleh generasi kita khususnya di Desa ini," tutup Jusman.
Editor: Aspian Nur