Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 21.30 WITA ketika seorang perempuan yang belum diketahui identitasnya datang membeli ayam lalapan di warung tersebut.
Istri pemilik warung, Roni, yang menerima pembayaran tidak menaruh curiga karena uang pecahan Rp100 ribu yang diserahkan dalam kondisi terlipat sehingga menutupi bagian hologram.
“Istri saya yang terima uang Rp100 ribu itu, kondisinya terlipat. Dia beli ayam lalapan, jadi kami berikan Rp80 ribu untuk kembaliannya. Baru ketahuan palsu saat saya mau transfer lewat BRILink, ditegur sama petugasnya kalau uang itu palsu,” ungkap Roni, Jumat (13/2/2026).
Roni menjelaskan, ciri-ciri terduga pelaku yakni memiliki perawakan tinggi berisi, diperkirakan berusia sekitar (30). Kemudian, penampilan menggunakan helm dan masker hitam untuk menutupi wajah. Gerak-gerik selalu menunduk saat ditanya dan enggan melakukan transaksi non-tunai.
“Pas saya suruh pakai QRIS, dia tidak mau, maunya tunai. Setelah saya posting di Facebook, ternyata banyak warga lain yang komentar kalau mereka juga pernah kena tipu. Ada penjual buah yang kemarin kena tipu dengan uang itu, dia bilang cirinya sama persis,” ungkap Roni.
Roni pun memilih memviralkan kejadian ini agar tidak ada korban lainnya di Kecamatan Tenggarong dan mereka lebih waspada.
“Harapan saya posting supaya teman-teman, terutama sesama pedagang, bisa lebih teliti lagi. Apalagi kalau ada pembeli yang mukanya ditutup masker atau helm dan menolak bayar pakai QRIS. Kami belum laporkan kejadian ini ke polisi,” tutupnya.
Adapun ciri-ciri uang palsu pecahan Rp100.000 umumnya terasa halus dan licin seperti kertas biasa bukan serat kapas, berwarna kusam, pudar, dan tidak memiliki efek warna-warni, lebih kasar saat diraba pada bagian nominal atau gambar pahlawan. Benang pengaman biasanya hanya dicetak atau ditempel, gambar tidak presisi saat diterawang.
Editor: Erwin