Kondisi ini telah berlangsung selama empat hari terakhir. Pemilik lahan, Didin Windi Astuti menyayangkan lumpur pekat berwarna abu-abu tersebut menutup tanaman bawang merah yang baru saja ia tanam, sehingga dipastikan tidak dapat tumbuh kembali.
“Banjir itu kan biasanya air bening, tapi ini lumpur kental. Ada pembukaan lahan pertambangan di area lokasi kami yang jaraknya sekitar 20 meter dari kebun saya.
Saya sudah berkomunikasi dengan mereka tunggu itikad baik, tapi sampai sekarang belum ada yang datang ke kebun,” kata Didin, Selasa (10/2/2026).
Di atas lahan satu hektare tersebut, ditanam berbagai jenis komoditas mulai dari jagung, cabai keriting, tomat, bawang merah, hingga cabai tiung. Akibat banjir lumpur, sebagian besar tanamannya mengalami kerusakan hingga mati.
Kata dia, untuk tanaman bawang merah tidak bisa tumbuh karena tertutup lumpur dan hanyut terbawa arus. Kemudian, tomat, sebagian besar layu dan mati setelah terendam selama seminggu terakhir. Cabai, sebagian kecil masih bisa dipanen, namun banyak yang terdampak genangan.
“Kerugian kami untuk benih saja sekitar Rp6 juta. Kalau semuanya di hitungan nilai panen bisa belasan juta rupiah kerugian yang di capai,” ungkapnya.
Didin mengaku telah melaporkan kejadian tersebut kepada Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri. Ia berharap ada langkah tegas dari pemerintah terhadap pihak yang melakukan pembukaan lahan tanpa memperhatikan dampak lingkungan di sekitarnya.
“Respons Bupati, pihaknya akan segera melakukan kaji dan kami warga diminta menunggu tindak lanjutnya,” tutupnya.
Selain lahan pertanian, banjir lumpur juga mulai menyentuh area pemukiman warga, terdapat satu unit rumah di ujung lahan yang mulai terdampak luapan lumpur tersebut.
Editor: Erwin