Camat Muara Kaman, Nadi Baswan, mengungkapkan bahwa anggaran yang sebelumnya dialokasikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2025 tersebut ternyata tidak terealisasi karena kendala ketiadaan kas daerah pada saat itu.
“Anggaran Rp200 miliar itu tidak cair, makanya tidak ada perbaikan jalan. Saya dengar kemarin posisinya memang kas kosong,” kata Nadi, Senin (9/2/2026).
Meski sempat terhenti, pihak kecamatan kini telah berkoordinasi melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) tingkat kecamatan yang digelar pekan ini. Infrastruktur jalan sepanjang 30 – 40 kilometer yang menghubungkan Muara Kaman Ilir, Benua Puhun, hingga Teratak ini kembali menjadi prioritas utama.
Menyadari adanya keterbatasan APBD, Camat Nadi menegaskan pihaknya kini tengah menjalin komunikasi dengan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Muara Kaman, termasuk perusahaan besar seperti MKH, BSI, dan Bayan, untuk melakukan urunan melalui program CSR.
“Kami dorong perusahaan untuk urunan. Paling tidak sebelum puasa dan lebaran ini ada pengerasan jalan dulu agar bisa dilewati. Saya sedih mendengar keluhan anak sekolah yang tidak bisa belajar karena jalan becek parah,” tegasnya.
Jalur tersebut ini dianggap sangat strategis karena merupakan rute tercepat menuju ibu kota kabupaten, Tenggarong. Jika jalan tersebut diperbaiki, warga hanya memerlukan waktu sekitar 40-50 menit untuk sampai ke Tenggarong.
Perbaikan jalan ini juga menjadi solusi untuk menjalankan roda perekonomian warga. Selama ini, biaya transportasi sangat tinggi karena warga harus menyeberang menggunakan kapal feri. Biaya Penyeberangan roda dua sekitar Rp15.000 atau Rp30.000. Biaya Penyeberangan roda empat sebesar Rp500.000.
“Bayangkan kalau mobil harus bayar 500 ribu sekali nyeberang. Makanya jalur darat ini harus diperbaiki. Rencananya perbaikan akan dilakukan dalam dua atau tiga tahap,” tutupnya.
Editor: Erwin