Kegiatan haul yang bertepatan dengan 20 Syaban 1447 Hijriah tersebut berlangsung khidmat. Sejak pagi hari, jemaah dari Tenggarong, Samarinda, Bontang, Balikpapan bahkan hingga daerah hulu Kukar berdatangan untuk bersama-sama melantunkan doa dan mengenang jasa ulama besar yang dikenal sebagai tokoh penyebar dakwah dan nilai keislaman di wilayah Kutai.
Salah satu jemaah asal Kota Samarinda, Ali, mengaku bersyukur dapat kembali mengikuti haul tersebut. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi juga sarana memperkuat spiritual dan silaturahmi antarumat.
“Setiap haul saya selalu berusaha hadir. Di sini kita merasakan ketenangan, kebersamaan, dan meneladani akhlak ulama. Semoga keberkahan beliau terus mengalir untuk kita semua,” ungkap Ali kepada Korankaltim.com, Minggu (8/2/2026).
Ia menambahkan, keberadaan makam ulama besar seperti Syekh Abu Tholhah menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai-nilai keislaman dan persatuan di tengah perkembangan zaman.
“Menguatkan iman mengingat akan kematian dan sarana silaturahmi antar jemaah dari berbagai daerah,” sebut Ali.
Sementara itu, Camat Tenggarong Syukur Eko Budi Santoso menyampaikan kegiatan haul memiliki makna strategis, tidak hanya dari sisi keagamaan, tetapi juga sosial dan ekonomi masyarakat.
“Haul ini membawa keberkahan bagi Kota Tenggarong. Selain meningkatkan keimanan, kegiatan wisata religi seperti ini juga menumbuhkan pergerakan ekonomi masyarakat, khususnya UMKM di sekitar lokasi,” ujarnya.
Haul Syekh Abu Tholhah Bin Mufti H. Muhammad Asad Al Banjari pun menjadi momentum spiritual yang tidak hanya mempererat ukhuwah islamiyah, tetapi juga menguatkan identitas Tenggarong sebagai kota yang religius, berbudaya, dan ramah bagi peziarah.
Menurut Eko, kehadiran jemaah dari berbagai daerah mendorong aktivitas pedagang kecil, mulai dari kuliner, perparkiran, hingga jasa lainnya. Hal ini menjadi bukti bahwa wisata religi mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.
“Kami berharap kegiatan keagamaan seperti ini terus dilestarikan. Tenggarong memiliki potensi besar sebagai kota religi yang damai, sejuk, dan penuh nilai sejarah. Jika dikelola dengan baik, ini akan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” tutupnya.
Editor: Erwin