“Alhamdulillah, dari hasil pantauan kami kondisi air sudah berangsur normal. Namun pembudidaya tetap kami imbau untuk waspada,” kata Muslik kepada Korankaltim.com, Senin (2/2/2026).
Sebelumnya, fenomena air bangar terjadi akibat meningkatnya debit air pasang dari wilayah hulu Mahakam yang membawa gulma air atau napung dalam jumlah besar. Gulma tersebut terbawa dari danau-danau di kawasan ulu Mahakam ke aliran Sungai Mahakam dan mengganggu arus sungai, transportasi air, serta aktivitas pembudidaya ikan keramba di sepanjang bantaran sungai, termasuk di wilayah Kota Bangun dan sekitarnya.
Menurut Muslik, kondisi tersebut diperparah oleh cuaca panas dan minimnya curah hujan yang menyebabkan penurunan kualitas air secara drastis, ditandai dengan tingginya kekeruhan serta perubahan tingkat keasaman air.
“Momen air pasang tinggi lalu surut, ditambah cuaca panas dan tanpa hujan, memang berpotensi memicu air bangar. Ini fenomena yang rutin, tapi dampaknya cukup berat bagi pembudidaya,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, DKP Kukar sebelumnya telah mengeluarkan imbauan kepada pembudidaya perikanan untuk melakukan panen lebih awal, menunda penebaran benih, melakukan penjarangan ikan, serta meningkatkan oksigenasi di keramba.
Muslik menegaskan, karena budidaya dilakukan di perairan terbuka, upaya mitigasi terbatas. Namun koordinasi lintas sektor tetap dilakukan untuk meminimalkan risiko kerugian.
“Kami berharap kondisi ini terus membaik dan tidak berlangsung lama, tapi kewaspadaan tetap diperlukan,” demikian Muslik.
Editor: Erwin