Ketua IDI Kukar, Arif Risdianto menjelaskan, secara medis air bangar yang berwarna kecokelatan hingga kehitaman mengandung zat organik terlarut, serta kadar besi (Fe) dan mangan (Mn) yang tinggi. Kondisi ini sering kali muncul saat transisi musim atau pasang-surut ekstrem Sungai Mahakam.
“Kandungan kimia dengan pH yang lebih asam dan tingginya zat organik dapat membuat iritasi kulit. Sir ini bayak bakteri dan jamur, sehingga risiko infeksi kulit dapat meningkat,” jelas Arif, Minggu (1/2/2026).
Kata dia, aktivitas mandi dan mencuci menggunakan air bangar dapat memicu dermatitis kontak iritan. Sebagai langkah mitigasi pihaknya menyarankan masyarakat untuk lebih mengutamakan penggunaan air PDAM. Namun, jika terpaksa menggunakan air sungai, warga diminta melakukan prosedur pengolahan sederhana.
“Jadi caranya air diendapkan selama 6 jam sebelum digunakan, ini untuk mengurangi paparan logam dan kuman. Gunakan hanya air bagian atasnya saja. Selain itu, perlindungan dari luar seperti penggunaan sabun dengan pelembap tinggi sangat dianjurkan untuk menjaga barrier kulit,” ujarnya.
IDI Kukar juga mengingatkan agar kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, dan lansia mendapatkan pengawasan ekstra, sebab, kulit mereka lebih sensitif terhadap iritasi. Jika muncul gejala gatal hebat, kemerahan, hingga luka bernanah, warga diminta segera ke Puskesmas atau rumah sakit.
“Sebagai mitra dinas kesehatan (Dinkes). Kami berkomitmen terus menghimpun temuan klinis dari dokter di lapangan, untuk memberikan masukan ilmiah dalam pengendalian risiko kesehatan lingkungan di sepanjang aliran Sungai Mahakam,” tutupnya.
Editor: Erwin