Kepala Distanak Kukar, Muhammad Taufik, mengatakan penyerapan gabah dan jagung merupakan komoditas strategis yang mendapat perhatian serius pemerintah daerah.
Pada tahun 2025 lalu, kerja sama dengan Bulog berjalan cukup baik, terutama di wilayah optimasi lahan yang gabahnya wajib diserap Bulog.
“Gabah yang diserap adalah gabah kering panen dengan harga Rp 6.500 per kilogram. Harga ini cukup menguntungkan bagi petani,” kata Taufik kepada Korankaltim.com, Minggu (1/2/2026).
Ia menjelaskan, Distanak memfasilitasi kerja sama Bulog dengan kelompok tani dan gabungan melalui pendampingan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Kerja sama tersebut ditandatangani berdasarkan rekomendasi dari Distanak Kukar.
Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat kendala, terutama terkait pengangkutan dan pengeringan gabah. Bulog memiliki keterbatasan mengambil gabah langsung dari sawah, sehingga pengeringan dilakukan oleh gapoktan atau penggilingan padi (RMU) yang memiliki fasilitas, dengan konsekuensi biaya tambahan.
Selain itu, keterbatasan gudang membuat Bulog lebih banyak menyerap dalam bentuk beras. Proses penggilingan melibatkan gapoktan dan RMU dengan margin sekitar Rp3.000 per kilogram.
Taufik menyebutkan, pada musim panen tahun ini masih ada kelompok tani yang mempertanyakan penyerapan gabah. Pihaknya pun telah berkoordinasi dengan Bulog agar penyerapan kembali dilakukan di wilayah panen seperti Anggana dan sekitarnya.
“Bulog sebaiknya fokus di wilayah yang mengalami overproduksi agar harga tidak jatuh. Untuk wilayah tertentu seperti Samboja, petani masih bisa menjual langsung dengan harga lebih tinggi di pasar lokal,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Bukit Pariaman Sugeng Riyadi, menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, program penyerapan gabah sangat membantu petani menjaga stabilitas harga saat musim panen.
“Petani kita semakin senang dan lebih tenang karena hasil panen para petani Kukar jelas ada yang menampung,” ucap Sugeng.
Editor: Erwin