Fokus utama kolaborasi ini adalah pemerataan kualitas layanan kesehatan hingga ke pelosok desa di Kukar pada 2026.
Salah satu terobosan yang terus diperkuat adalah mobilisasi dokter spesialis ke Puskesmas dan desa-desa. Program ini mencakup spesialis anak, penyakit dalam, kebidanan, saraf, hingga kesehatan jiwa.
“Program dokter masuk desa dan telemedicine sudah berjalan baik, tapi di 2026 akan kami optimalkan lagi, terutama untuk menjangkau daerah yang terisolasi dan jauh dari fasilitas kesehatan,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Arif Risdianto, Jumat (30/1/2026).
IDI Kukar saat ini fokus menyediakan dokter di tiga wilayah, yaitu Kecamatan Tabang, Desa Ritan dan Kembang Janggut. Fokus ini merupakan respons terhadap kondisi pelayanan kesehatan di daerah tersebut yang masih belum memadai.
Tak hanya itu, IDI Kukar juga tengah memperjuangkan nasib para tenaga medis. Dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Sistem Kesehatan Daerah (SKD), IDI mengusulkan adanya peningkatan kesejahteraan bagi dokter yang bertugas di daerah pedalaman.
Arif menekankan pentingnya regenerasi dengan mendukung putra daerah berprestasi untuk menempuh pendidikan kedokteran.
“Tujuannya jelas, agar setelah lulus mereka kembali mengabdi di daerah asalnya. Ini solusi jangka panjang untuk pemenuhan nakes di Kukar,” tambahnya.
Diketahui, IDI Kukar telah menetapkan lima indikator keberhasilan utama seperti, pemerataan Kompetensi yakni menjamin dokter di layanan primer (Puskesmas) memiliki standar kompetensi nasional yang merata. Kemudian, etika dan standar praktik, memperkuat budaya praktik kedokteran yang berbasis pada standar medis dan etika profesi.
Selanjutnya, menjadikan dokter Puskesmas sebagai pilar utama dalam upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Mempererat sinergi dengan Pemkab Kukar dalam pengambilan kebijakan kesehatan serta mewujudkan peningkatan kesejahteraan bagi para dokter yang bertugas di seluruh wilayah Kukar.
Editor: Erwin