Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Taufik, menyebut target tersebut sejak awal dinilai kurang realistis jika merujuk pada data historis.
Selama ini, luas tanam jagung di Kukar tidak pernah melebihi 3.000 hektare per tahun, dengan rata-rata realisasi hanya 1.500 hingga 3.000 hektare.
“Kalau melihat sejarahnya, luas tanam jagung di Kukar itu tidak pernah lebih dari 3.000 hektare. Jadi target 30 ribu hektare dalam lima tahun memang berat,” ungkap Taufik kepada korankaltim.com, Minggu (25/1/2026).
Ia menjelaskan, kendala utama terletak pada karakter petani Kukar yang mayoritas bersifat polikultur, serta tipologi lahan yang berbukit dan tidak merata.
Kondisi tersebut berbeda dengan daerah sentra jagung lain yang memiliki hamparan lahan kering luas dan datar.
Meski dukungan program dan pendanaan dinilai cukup, minat petani menanam jagung masih fluktuatif. Di sejumlah wilayah seperti Marangkayu, Makarti, dan Saka Makmur, luas tanam jagung justru mengalami penurunan. “Dari sisi pasar, harga jagung Kukar kita juga kurang kompetitif dibanding daerah lain,” terang Taufik.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Saka Makmur, L Prawoto, menilai penurunan luas tanam terjadi hampir di seluruh kecamatan. Faktor utama penyebabnya adalah minimnya regenerasi petani serta alih fungsi lahan ke sektor nonpertanian, termasuk tambang.
“Alih fungsi lahan pertanian dan masih minim nya SDM petani kita memang jadi tantangan,” ujarnya.
Editor: Erwin