Kehadiran
feri ini menjadi solusi transportasi alternatif yang dinilai mampu
memangkas jarak dan waktu tempuh warga menuju Kota Samarinda maupun
sebaliknya.
Feri tradisional tersebut mampu mengangkut
kendaraan roda dua hingga mobil. Dengan memanfaatkan jalur sungai, waktu
perjalanan warga Loa Kulu menuju Samarinda dapat dipersingkat sekitar
30 menit dibandingkan jalur darat yang harus memutar melalui Tenggarong
dan Jongkang.
Sandi, seorang pekerja jasa angkutan Feri Fatimah
mengatakan layanan ini telah beroperasi selama dua pekan terakhir.
Setiap hari, kapal feri itu melayani penyeberangan mulai pukul jam enam
pagi sampai jam sebelas malam.
“Alhamdulillah, sudah berjalan
dua minggu. Dari Dinas Perhubungan Kukar juga sudah memberikan arahan
kepada kami agar selalu mengutamakan keselamatan selama beroperasi,”
ujar Sandi kepada Korankaltim.com, Selasa (20/1/2026).
Terkait
tarif, pihak pengelola menetapkan biaya yang relatif terjangkau bagi
masyarakat. Untuk sepeda motor dikenakan tarif Rp8.000 per unit,
sementara kendaraan roda empat atau mobil sebesar Rp25.000 per unit.
Dengan
beroperasinya feri tradisional di Loa Kulu, diharapkan mobilitas
masyarakat semakin lancar, aktivitas ekonomi meningkat, serta
konektivitas antarwilayah di Kukar dan Samarinda semakin baik. Kehadiran
transportasi air ini menjadi bukti bahwa solusi sederhana berbasis
kearifan lokal mampu memberikan dampak besar bagi kenyamanan dan
efisiensi perjalanan warga.
Tak hanya menjadikan peluang bisnis
jasa angkut, kehadiran feri tradisional ini juga disambut antusias oleh
warga. Hendra, warga Desa Loa Kulu Kota, mengaku sangat terbantu dengan
adanya layanan penyeberangan tersebut.
“Alhamdulillah lebih
dekat dan lebih cepat. Kalau soal biaya relatif ya, daripada harus ke
Tenggarong dulu lalu memutar lewat jalur Jongkang menuju Samarinda.
Memang jauh lebih cepat kalau nyebrang pakai feri ini,” ucap Hendra.
Editor: Aspian Nur