Sebelumnya, pria asal
Madura ini bekerja sebagai pengumpul barang bekas dengan penghasilan
yang tidak menentu. Kini, ia memperoleh pekerjaan yang lebih layak.
Kisah
hidup Fusadin penuh dengan perjuangan. Ia merantau ke Kalimantan Timur
(Kaltim) dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun,
kenyataan yang dihadapinya tidaklah mudah.
Selain harus
bertahan dengan penghasilan yang pas-pasan, ia juga harus merawat sang
istri yang mengalami lumpuh total. Meski demikian, Fusadin tidak pernah
menyerah.
Melalui Program MBG, Fusadin mengaku kembali memiliki
harapan di usia senjanya. Ia merasa sangat terbantu karena masih diberi
kesempatan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup, sekaligus
menghidupi istrinya yang lumpuh.
“Program MBG tidak hanya
memberikan makanan bergizi bagi siswa, tapi juga berdampak positif bagi
warga sekitar, saya sangat bersyukur,” ungkap Fasudin, Minggu
(18/1/2026).
Fusadin mengaku setelah bertahun-tahun menggantungkan
hidup dari mengumpulkan barang bekas dengan penghasilan yang serba
tidak pasti, ia kini merasakan perbaikan ekonomi yang lebih menjanjikan.
“Dulu
mengumpulkan barang bekas pendapatan tak menentu sekitar Rp40 ribu saja
satu hari, kalau sekarang Alhamdulillah pendapatannya per hari dihitung
Rp120 ribu,” ujarnya.
Alasannya tidak pernah menyerah adalah
seorang perempuan yang menunggunya di rumah yakni Istrinya. Mereka hidup
tanpa keturunan dan jauh dari sanak saudara.
Kisah sedihnya
bertambah sejak rumah yang berada di area Taman Tanjung ditertibkan
untuk pembangunan taman kota, ia kehilangan status kependudukan dan
dampaknya fatal, terputus dari daftar penerima bantuan sosial. Beras
jatah yang rutin diterima, kini hanya tinggal kenangan.
Kini,
panggung Pasar Seni Tenggarong menjadi saksi bisu kehidupan pasangan
tersebut. Di atas bangunan kayu itu, Fusadin merawat istrinya dengan
segala keterbatasan, bahkan ia sempat membawa pulang istrinya dari
perawatan kantor sosial karena merasa pengobatan dan perhatian di sana
tidak mencukupi.
"Saya harap, supaya program ini lanjut terus.
Ini meringankan beban kami yang sudah tua dan tidak punya pekerjaan
tetap. Biarlah kami bekerja sebagai pencuci ompreng, asal dapur di rumah
tetap mengepul," tutupnya.
Editor: Erwin