menimbulkan kekhawatiran warga setempat.
Gulma yang hanyut mengikuti arus tersebut berpotensi masuk ke Sungai Pela hingga Sangkuliman dan mengancam usaha perikanan masyarakat jika tidak segera ditangani.
Saat ini, posisi gulma dilaporkan masih berada di kawasan Tanjung Lungun dan bergerak mendekati Tanjung Lango. Mengantisipasi dampak yang lebih luas, warga Desa Pela bersama warga Desa Sangkuliman dua hari ini turun langsung ke sungai melakukan gotong royong untuk membelah dan memecah hamparan gulma agar tidak menutup aliran sungai maupun keramba ikan.
Seluruh warga di Desa Pela terlibat dalam aksi tersebut. Enam RT secara swadaya melakukan iuran untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) guna mengoperasikan perahu warga yang digunakan dalam proses pembelahan gulma. Selain itu, bantuan dana juga datang dari sejumlah kepala desa di wilayah Kota Bangun.
“Kalau gulma ini sampai hanyut ke Sungai Pela dan Sangkuliman, kemungkinan besar keramba ikan warga bisa terbabat habis,” ujar tokoh masyarakat setempat yang juga Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bekayuh Baumbai Berbudaya (B3) Desa Pela, Alimin Azarbaijan kepada Korankaltim.com, Jumat (16/1/2026).
Upaya pemotongan dan pembelahan gulma yang telah dilakukan membuahkan hasil. Gulma yang sudah dipotong-potong dilaporkan telah hanyut ke arah hilir tanpa menimbulkan dampak kerusakan pada keramba warga.
Meski demikian, warga mengakui keterbatasan peralatan menjadi kendala utama. Hingga kini, bantuan kapal tug boat yang dinilai sangat dibutuhkan untuk memecah hamparan gulma berukuran besar tersebut belum tersedia. Bantuan BBM sejauh ini diperoleh dari pihak kecamatan serta dukungan para kepala desa di Kecamatan Kota Bangun.
Warga berharap adanya perhatian dan bantuan lebih lanjut dari pihak terkait, khususnya penyediaan tug boat, agar pembersihan gulma dapat dilakukan lebih efektif dan tidak berulang.
“Kami berharap gulma ini bisa benar-benar dipecah sebelum masuk ke wilayah pemukiman dan sentra perikanan. Kalau tidak, dampaknya akan sangat besar bagi mata pencaharian warga,” ungkap warga lainnya.
Gotong royong tersebut menjadi wujud solidaritas masyarakat dalam menjaga lingkungan sungai sekaligus melindungi sumber penghidupan mereka dari ancaman gulma air yang kian meluas. “Semoga ada bantuan kapal tug boat dari perusahaan wilayah kawasan sekitar sini,” harap Alimin.
Editor: Aspian Nur