Kejadian ini dirasakan oleh masyarakat Desa Genting Tanah, Kecamatan Kembang Janggut. Ada sebanyak tiga kasus DBD yang menyebabkan satu orang balita meninggal dunia.
Kepada Desa Genting Tanah, Junaidi mengatakan, serangan nyamuk Aedes aegypti ini sebenarnya sudah mulai muncul sejak Desember 2025 lalu dan kini dikhawatirkan akan meluas seiring kondisi lingkungan yang lembap akibat banjir.
“Ada tiga kasus DBD, semuanya anak-anak. Dua orang sudah sembuh, tapi satu anak usia sekitar tiga tahun meninggal dunia. Ini menjadi peringatan keras bagi kita semua,” kata Junaidi, Kamis (15/1/2026).
Pihak desa bersama Puskesmas Kembang Janggut telah melakukan langkah darurat dengan merujuk pasien ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai dan memberikan bantuan vitamin serta obat-obatan bagi warga yang mulai menunjukkan gejala demam.
Kondisi banjir yang saat ini merendam jalan poros hingga setinggi 50 sentimeter di Genting Tanah dianggap memperparah risiko penyebaran penyakit berkembang biak yang ideal bagi nyamuk.
Menyikapi hal tersebut, pemerintah desa langsung bergerak melakukan penyemprotan atau fogging secara menyeluruh, meskipun tantangan di lapangan cukup berat karena beberapa akses jalan utama tergenang air.
“Kami sudah melakukan penyemprotan, sosialisasi pemberantasan nyamuk dan minta warga tetap waspada menjaga kebersihan lingkungan,” tegasnya.
Pihak desa juga mengingatkan kepada para orang tua untuk lebih proaktif memantau kondisi kesehatan anak-anak mereka. Jika ditemukan gejala demam tinggi, segera lakukan pemeriksaan ke Puskesmas.
“Himbauan sudah kami sebar ke masyarakat. Jangan anggap remeh demam saat musim banjir. Kami ingin memutus rantai kasus ini agar tidak ada lagi korban jiwa,” tutupnya.
Editor: Erwin