Upaya pencarian ini melibatkan personel gabungan dari Badan Sar Nasional (BASARNAS) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar), Damkar Pos Kota Bangun, pihak kecamatan, hingga relawan serta warga setempat.
Koordinator Lapangan (Korlab) BPBD Kukar, Novan Fachrozie, menjelaskan tim di lapangan menerapkan metode pembagian zona penyisiran. Hal ini dilakukan karena kondisi arus Sungai Belayan yang sangat deras akibat luapan banjir di wilayah hulu.
“Karena arus cukup deras, kami menggunakan metode penyisiran zona. Jarak penyisiran diperpanjang ke arah hilir. Hingga hari ini, tim sudah menyisir sejauh 15 kilometer, bahkan sudah sampai ke wilayah Desa Perdana,” ungkap Novan, Rabu (14/1/2026).
Petugas BPBD yang sedang bertugas memantau banjir di wilayah Kembang Janggut juga turut dikerahkan untuk melakukan penyisiran sembari memantau debit air.
Meski pencarian dilakukan secara intensif di permukaan, tim rescue memastikan tidak melakukan upaya penyelaman. Sebab, keputusan ini diambil demi keselamatan para personel mengingat kondisi arus sungai bagian bawah sedang deras.
“Kondisi tidak memungkinkan untuk penyelaman karena sedang banjir dan arus sangat deras. Terlalu berisiko bagi tim jika harus menyelam dalam keadaan seperti ini,” ucapnya.
Diketahui, musibah ini terjadi pada Selasa (13/1/2026) sekitar pukul 04.00 WITA. Saat itu, korban berinisial A (58) sedang mengantarkan korban selamat berinisial I (21), seorang karyawan PT BSS, menyeberangi sungai. Naas, perahu ces yang mereka tumpangi bertabrakan dengan kapal LCT.
Dalam insiden tersebut, I yang merupakan penumpang berhasil menyelamatkan diri, sementara A hingga saat ini masih dinyatakan hilang diduga terseret oleh arus.
Editor: Erwin