Kepala Desa Santan Ilir, Murtsalin mengatakan, meski saat ini sudah mulai ada penurunan debit air, namun kondisi di lapangan masih memprihatinkan. Setidaknya ada sekitar 100 rumah yang hingga kini masih tergenang.
“Banjir mulai naik sejak hari Minggu lalu. Ketinggian air di halaman rumah sempat mencapai 1,2 hingga 1,5 meter. Walaupun rata-rata rumah warga sudah ditinggikan, air tetap masuk ke dalam rumah,” kata Murtsalin, Minggu (4/1/2026).
Luapan air ini menutup akses jalan dan membuat aktivitas warga tidak berjalan normal. Warga berprofesi sebagai nelayan juga ikut untuk menyiagakan perahu mereka sebagai alat transportasi darurat.
“Kami instruksikan kepada setiap RT dan para nelayan supaya membawa perahu mereka ke area pemukiman untuk di jadikan alat transportasi utama bagi warga yang ingin keluar masuk rumah atau mengevakuasi barang,” ujarnya.
Kata dia, dari 12 RT yang terkena banjir, sebanyak sembilan RT yang paling parah. Terkait posko pengungsian, pihak desa menyarankan para korban terdampak banjir untuk di evakuasi mandiri ke rumah keluarga yang lokasinya lebih tinggi.
“Untuk saat ini kami belum mendirikan posko terpusat. Tapi warga yang rumahnya tenggelam diarahkan untuk mengungsi ke rumah kerabat masing-masing setelah barang berharga mereka berhasil diamankan,” ungkapnya.
Terkait logistik, bantuan mulai mengalir dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah Marangkayu serta swadaya dari masyarakat setempat.
Namun, warga tetap berharap adanya perhatian lebih lanjut terkait pembersihan saluran air pascabanjir.
Penyebab utama banjir ini murni dikarenakan faktor alam, curah hujan ekstrem yang terjadi selama berhari-hari sejak awal pekan.
“Hujannya siang malam tanpa henti, puncaknya pagi hari air langsung meluap dari saluran-saluran menuju pemukiman,” tutupnya.
Editor: Erwin