Moda transportasi ini menghubungkan Desa Loa Pari, Kecamatan Tenggarong Seberang, dengan Kelurahan Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong, khususnya bagi pejalan kaki dan pengguna kendaraan roda dua.
Kepala Desa Loa Pari, I Ketut Sudiyatmika, mengungkapkan bahwa usaha jasa penyeberangan ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat setempat.
“Perjalanan usaha jasa kapal feri penyeberangan ini sudah berlangsung lama. Dulu yang pertama ada di Desa Loa Raya menyeberang ke Kelurahan Baru sekitar tahun 1997. Sementara untuk di Loa Pari ini mulai beroperasi sejak tahun 2001-an hingga sekarang,” ungkapnya kepada Korankaltim.com, Jumat (2/1/2026).
Menurutnya, keberadaan kapal feri tradisional ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa karena berfungsi sebagai jantung transportasi penghubung antarwilayah, khususnya antara kawasan pesisir Kecamatan Tenggarong Seberang dengan wilayah Kecamatan Tenggarong dan sekitarnya.
Tak hanya menjadi sarana transportasi, kapal feri tersebut juga berperan sebagai pemersatu masyarakat desa-desa pesisir di Tenggarong Seberang, seperti Loa Raya, Loa Pari, Loa Ulung, dan wilayah sekitarnya.
“Bukan hanya soal akses jalur darat, tapi juga menyatukan masyarakat. Dari dulu sampai sekarang, hubungan kekeluargaan antardesa terjalin kuat, bahkan sudah beranak pinak,” ujarnya.
Meski berada di era modern, Sudik sapaan akrab Kades Loa Pari ini menilai transportasi tradisional seperti kapal feri penyeberangan masih belum bisa sepenuhnya ditinggalkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, pihak Pemerintah Desa Loa Pari berharap usaha jasa angkutan orang dan barang ini dapat terus eksis dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan.
“Alhamdulillah, sejauh ini tidak pernah terjadi insiden yang fatal. Pernah memang ada kecelakaan kecil, seperti terserempet arus atau hampir tertabrak kapal pembawa kayu yang penerangannya kurang di malam hari. Tapi itu bukan karena kelalaian pemilik jasa angkut atau motoris,” jelasnya.
Sementara itu, Roy, salah satu motoris kapal feri, menyebutkan tarif penyeberangan yang dikenakan relatif terjangkau. Untuk satu unit sepeda motor dikenakan tarif Rp3.000, sedangkan anak-anak sekolah hanya Rp2.000.
“Kami beroperasi setiap hari. Tapi kalau sudah larut malam dan penumpang sepi, biasanya kami tutup demi keselamatan bersama. Operasional kembali dimulai sejak subuh,” ungkap Roy.
Keberadaan kapal feri tradisional di Sungai Mahakam ini menjadi bukti bahwa di tengah kemajuan zaman, transportasi berbasis kearifan lokal tetap memiliki peran vital dalam menunjang mobilitas dan kehidupan sosial masyarakat.
“Secara berkala dari Dishub juga melakukan pengawasan dan pengecekan ke kapal-kapal fery agar sesuai SOP dan layak berlayar,” tutupnya.
Editor: Erwin