Dalam surat yang ditandatangani langsung oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, Adji Mohammad Arifin, Kesultanan menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, khususnya Dinas PU atas sinergi dan kerja sama yang telah terjalin dengan baik.
Surat tersebut merupakan tindak lanjut dari permohonan penamaan jembatan yang diajukan Dinas PU Kukar melalui surat Nomor P.2167/DPU/BM/600.2/12/2025 tertanggal 12 Desember 2025. Menanggapi hal itu, Kesultanan menyatakan persetujuan dan perkenan atas penggunaan nama Jembatan Kedaton Agung.
Kesultanan menjelaskan, nama Kedaton Agung mengandung makna filosofis yang mendalam. Nama tersebut mencerminkan kemuliaan dan lambang kebesaran, sekaligus merepresentasikan persatuan, kesinambungan nilai-nilai adat dan budaya, serta keberlanjutan warisan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat sejalan dengan pembangunan daerah yang berpadu dengan kehidupan modern dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Tenggarong.
Selain itu, jembatan yang berada di pusat Kota Raja tersebut juga dimaknai sebagai simbol penghubung antara kejayaan Keraton Kutai Kartanegara dengan pusat spiritual masyarakat, yakni Masjid Agung Sultan Sulaiman.
Dalam suratnya, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura juga berharap agar nama Jembatan Kedaton Agung dapat digunakan dengan penuh tanggung jawab, dijaga kehormatannya, serta disertai dengan upaya pelestarian adat, sejarah, dan budaya daerah di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kepala Dinas PU Kukar Wiyono berterima kasih atas dukungan, sinergi, dan kerja sama yang diberikan oleh pihak Kesultanan. “Terima kasih kepada ayahanda Yang Mulia Sultan, kami menilai persetujuan penamaan tersebut menjadi bentuk dukungan moral dan kultural dalam pembangunan infrastruktur daerah,” kata Wiyono dikonfirmasi Korankaltim.com, Rabu (17/12/2025).
Diketahui, jembatan yang kini telah rampung dibangun tersebut memiliki peran strategis sebagai sarana prasarana penghubung melintasi Sungai Tenggarong.
Kehadirannya menggantikan peran sentral Jembatan Besi, jembatan bersejarah peninggalan masa kolonial Belanda di tanah Kutai. Selama proses pembangunan dan sebelum penetapan nama resmi, jembatan baru yang berada di sisi Jembatan Besi itu dikenal dengan sebutan Jembatan Pendamping Jembatan Besi.
“Dengan ditetapkannya nama Jembatan Kedaton Agung, jembatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur penghubung, tetapi juga menjadi simbol sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Kutai Kartanegara,” papar Wiyono.
Editor: Aspian Nur