Hebby mengatakan respons positif telah diterima dari pihak pekerja dan persoalan ini akan segera dirapatkan oleh dinas terkait. Langkah komunikasi ditempuh melalui jalur formal dengan mengirimkan surat resmi yang ditembuskan ke sejumlah instansi, yakni Polres Kukar, Kodim Kukar, Pemkab Kukar, DPRD Kukar, serta dinas instansi terkait Kukar.
“Alhamdulillah sudah mendapat respon positif dari pihak pekerja dan akan dirapatkan di dinas terkait. Hari ini kami sudah menjalankan proses sesuai aturan perundang-undangan,” kata Hebby dikonfirmasi Korankaltim.com, Sabtu (13/12/2025).
Hebby menilai pembangunan patung-patung tersebut dilakukan tanpa adanya sosialisasi maupun izin kepada Pemangku Adat Tertinggi di Tanah Kutai dalam hal ini Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Tindakan itu dianggap sebagai “melanggar ketentuan adat” dan mencerminkan kurangnya penghormatan terhadap nilai-nilai kearifan lokal.
Sebenarnya RKB dapat langsung melakukan pembongkaran, namun memilih untuk menahan diri demi menjaga adab dan kondusivitas daerah. “Kami lebih mengedepankan adab di Tanah Kutai. Ini juga sebagai pengajaran bagi oknum-oknum yang kami nilai ‘malang adat’ tentang pentingnya adab dibanding sekadar ilmu pengetahuan yang mereka miliki,” tegasnya.
Dalam surat resmi yang dikirimkan, Remaong Kutai Berjaya memberikan tenggat tiga hari sejak kemarin sampai Minggu besok agar pihak terkait memberikan tanggapan atau melakukan penertiban. Jika tidak ada respons, organisasi adat tersebut menyatakan siap turun langsung untuk melakukan pembongkaran pada hari Senin (15/12/2025).
“Jika dalam tiga hari tidak ada tanggapan, atas nama adat Kutai kami yang akan turun langsung membongkar patung tersebut,” sebut Hebby.
Hebby berterima kasih kepada seluruh pihak yang ikut menjaga situasi tetap kondusif di wilayah Kutai Kartanegara. “Tanah Kutai bukan tanah Jawa,” tegasnya.
Langkah yang diambil bukan semata-mata inisiatif organisasi, melainkan telah mendapat restu dan mandat dari Yang Mulia Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21, Aji Muhammad Arifin.
Tidak hanya patung tokoh dari budaya Jawa, seluruh patung yang ada termasuk patung tokoh fiksi seperti Iron Man, Hulk, hingga Gundam diminta untuk dibongkar tanpa pengecualian. Keberadaan patung-patung tersebut dinilai tidak mencerminkan nilai budaya Kutai dan dianggap mencederai marwah adat.
Hebby menegaskan komitmen Remaong Kutai Berjaya untuk menjaga pelestarian nilai adat dan identitas budaya daerah. “Rakat Kuat Berjaya, Kutai Jaya,” tutupnya.
Editor: Aspian Nur