Keberadaan patung-patung bertema tokoh superhero yang menghiasi area taman pasar jadi penyebabnya. Dikawasan tersebut bersamaan dengan penataan ulang pasar berdiri patung Gatot Kaca, patung Iron Man juga patung Gundam yang dinilai tidak mencerminkan identitas dan kearifan lokal Kutai Kartanegara padahal kabupaten tersebut memiliki pahlawan lokal seperti Ayus (Legenda Sang Perkasa) atau Awang Long Senopati sebagai lambang perlawanan Kutai.
Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Plt Kadisperindag) Kukar Sayid Fathullah menjelaskan kalau mereka tidak terlibat dalam penentuan konsep taman maupun pemilihan ornamen patung.
Disperindag Kukar hanya bertindak sebagai penerima manfaat dari proyek pembangunan pasar tersebut sementara perencanaan desain taman dan dekorasi termasuk pemasangan patung superhero berada diluar kewenangan instansinya.
“Terkait taman pasar dan adanya hiasan patung-patung superhero, kami tidak mengetahui karena itu bukan bagian dari tugas kami. Kami hanya penerima manfaat dari pembangunan pasar semi modern tersebut,” ujar Sayid saat dikonfirmasi Korankaltim.com, Jumat (12/12/2025).
Sayid menilai perbedaan sudut pandang merupakan hal yang wajar. “Kalau dilihat dari sudut pandang anak-anak, tentu mereka akan sangat senang melihat tokoh-tokoh superhero itu. Namun jika dipandang dari perspektif pelaku budaya, tentu tidak ada relevansinya, karena nama Pasar Tangga Arung tetapi ornamen yang dipasang tidak mencerminkan kearifan lokal,” jelasnya.
Dinamika pendapat masyarakat ini merupakan masukan penting untuk mempertimbangkan aspek budaya dalam penataan ruang publik di masa mendatang, terutama pada kawasan yang membawa identitas kuat seperti Pasar Tangga Arung.
Hingga kini, patung-patung superhero tersebut masih terlihat di area taman pasar dan menjadi sorotan publik yang mempertanyakan keselarasan antara konsep pembangunan pasar dengan nilai budaya lokal.
“Semoga kondusifitas daerah tetap terjaga dan semua pihak bisa menyikapi ini dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan,” harap Sayid.
Editor: Aspian Nur