Petinggi Pore atau Ketua Sempekat Keroan Kutai Thauhid Afrilian Noor menjelaskan, pembukaan Wadah Etam Mbeko menjadi langkah strategis organisasi dalam melestarikan kuliner khas Kutai sekaligus memperkuat kemandirian operasional ormas.
“Usaha ini resmi dibuka hari ini dan seluruh keuntungannya akan digunakan untuk operasional organisasi. Harapannya, langkah ini dapat menjadi contoh bagi Sempekat Keroan Kutai di tingkat kecamatan se-Kutai Kartanegara untuk melakukan hal serupa,” kata Thauhid didampingi Penjawat Surat Pore atau Sekretaris Sempekat Keroan Kutai Sayid Fathullah kepada Korankaltim.com.
Selain menjadi pusat penyajian makanan tradisional Kutai, Wadah Etam Mbeko juga membuka ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk ikut berkembang. Melalui sistem besorok, para pelaku usaha dapat menitipkan kue maupun olahan makanan mereka agar dijual di tempat tersebut.
Diyakini ehadiran Wadah Etam Mbeko bukan hanya memperkuat ekonomi kreatif masyarakat, tetapi juga menjadi wadah mempererat hubungan antarwarga.
“Ini bukan sekadar usaha, tetapi ruang silaturahmi. Tidak hanya bagi sesama suku Kutai, tetapi juga bagi seluruh masyarakat lintas suku yang tinggal di Kutai Kartanegara,” tambahnya.
Dengan konsep yang mengusung pemberdayaan komunitas dan pelestarian kuliner tradisional, Wadah Etam Mbeko diharapkan menjadi ikon baru bagi pengembangan ekonomi berbasis budaya di daerah tersebut.
“Semoga Wadah Etam Mbeko bisa menjadi bagian dalam peningkatan perkembangan ekonomi kreatif bagi masyarakat pelaku usaha jasa kuliner tidak hanya suku Kutai tapi untuk semua lintas suku yang ada di Kutai Kartanegara,” harap Thauhid.
Editor: Aspian Nur