Sejumlah korban dari PT Al Husna Era Nusantara mengungkapkan bahwa dana mereka, termasuk uang milik para investor, diduga dibawa kabur oleh direktur perusahaan berinisial UL, yang hingga kini menghilang.
Salah satu korban sekaligus jemaah dan juga investor, Nur A, mengatakan kasus ini murni ulah oknum, bukan perusahaan secara keseluruhan. Ia menegaskan komisaris PT Al Husna, Basith, bahkan ikut menjadi korban.
“Yang menggelapkan itu direkturnya, Ulfa. Komisarisnya juga tertipu, uangnya dibawa. Ini sebenarnya bukan masalah perusahaan, tapi ulah oknum,” ujar Nur yang diaminkan keempat rekannya sesama korban kepada Korankaltim.com, Kamis (11/12/2025).
Menurutnya, Komisaris PT Al Husna Era Nusantara, Basith juga telah melapor ke Polres dan dijadwalkan kembali menjalani pemeriksaan pekan depan.
Ia kini berupaya mencari solusi bagi para jemaah dari berbagai daerah, mulai dari Tenggarong, Jonggon, Sangatta, hingga Balikpapan.
Komisaris Basith disebut berusaha memenuhi keberangkatan jemaah yang telah terjadwal. Untuk wilayah Sangatta, terdapat sekitar 150 jemaah yang dana keberangkatannya ikut raib dibawa kabur oleh direktur. Mereka dijanjikan tetap berangkat pada Januari 2026 dengan bantuan kerja sama travel lain.
Sementara jemaah di Tenggarong, Balikpapan, dan Jonggon dijanjikan keberangkatan sekitar bulan Juni tahun depan. Namun kepastian itu belum menjangkau seluruh jemaah.
Perwakilan jemaah masih menunggu klarifikasi langsung dari komisaris terkait bukti pembayaran dan mekanisme penyelesaian masalah tersebut.
Selain merugikan jemaah, kasus ini juga menyeret sejumlah investor. Salah satunya Berta, yang menginvestasikan sekitar Rp700 juta dengan janji keuntungan dalam 1,5 bulan serta bonus dua seat umrah. Namun hingga batas waktu 10 Desember, tak ada satu pun janji yang terealisasi.
Total kerugian yang ditaksir dari dana para investor dan ratusan jemaah disebut mencapai lebih dari Rp5 miliar. Modus penipuan yang dilakukan
Travel ini sebenarnya telah beroperasi sejak 2023 dan terlihat berjalan normal. Namun, menurut keterangan korban, sistem yang dijalankan mirip pola penipuan yang pernah terjadi pada Abu Tour.
Biaya umrah yang seharusnya berkisar Rp39–40 juta dijual hanya Rp20–25 juta, jauh di bawah harga modal yang diperkirakan sekitar Rp35 juta.
“Dia jual murah, harus cash, lalu uangnya dipakai menutup kebutuhan lain. Akhirnya dia pusing sendiri dan cari investor untuk menutup kekurangan,” jelas Nur A.
Masalah memuncak pada November lalu ketika UL menghilang dan ponselnya tidak lagi aktif. Ia diduga pergi membawa ketiga anaknya beserta dokumen pribadi, sementara suaminya yang juga ASN mengaku tidak mengetahui keberadaannya.
UL diketahui merupakan ASN di Disdukcapil Kukar. Para korban mengaku laporan sudah masuk hampir sebulan, namun proses penanganannya dinilai lambat. Mereka berharap pemberitaan ini dapat mendorong polisi mempercepat pencarian pelaku.
“Kami berharap kasus ini cepat ditangani dan keberadaan Ulfa segera ditemukan. Jangan sampai ada korban lain jika oknum ini masih berkeliaran,” tutupnya.
Editor: Erwin