Patung-patung yang baru dipasang di kawasan tersebut dinilai tidak mencerminkan identitas dan kearifan lokal daerah.
Budayawan asal Tenggarong sekaligus mantan anggota DPRD Kukar, Ahmad Zulfiansyah menilai pemerintah tidak konsisten dalam menerapkan Perda Nomor 4 Tahun 2018 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Identitas Daerah.
Menurutnya, konsep taman dan patung yang dipajang justru bertentangan dengan amanat regulasi tersebut.
“Bangunannya megah dan modern, tapi tidak relevan dengan identitas lokal. Dari nama Tangga Arung yang berakar dari sejarah Tenggarong saja sudah tidak nyambung dengan patung-patung yang dipasang. Apa relevansinya Gatotkaca dan tokoh superhero lain?” ungkap Zulfiansyah dikonfirmasi Korankaltim.com, Kamis (11/12/2025).
Ia menegaskan, Kukar memiliki banyak figur dan legenda lokal yang bisa diangkat sebagai ikon, seperti Ayus (Legenda Sang Perkasa) atau Awang Long Senopati sebagai lambang perlawanan Kutai.
Bahkan nama-nama taman pun, katanya, bisa memakai istilah budaya lokal seperti Taman Odah Benaong atau Taman Odah Bejono’an.
“Kurang cukup kah kawasan Tenggarong sekarang layaknya Malioboro Jogja, semakin hari semakin hilang identitas Kutai etam,” tegasnya.
Hal senada disampaikan perwakilan Sempekat Keroan Kutai, Upa Permana dan Mursil. Ia menegaskan pihaknya siap melakukan aksi turun ke jalan jika patung-patung tersebut tidak segera diganti.
“Pembangunan fisik yang berkaitan dengan etnik harus disosialisasikan dan melibatkan unsur kebudayaan daerah. Jangan sampai kesalahan berulang seperti pagar bermotif Bali di Polres Kukar dulu yang akhirnya dibongkar, kemudian juga rencana pembongkaran Jembatan Besi akhirnya ditolak tegas warga, dan sekarang patung-patung khas Jawa malah menghiasi di Taman Pasar Tangga Arung. Kami rasa sudah sangat jelas pepatah nasional kita di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung,” tegas Upa yang diamini Mursil.
Ia menambahkan, tanpa dialog dengan budayawan, ormas, dan tokoh masyarakat, pembangunan berpotensi menghamburkan anggaran.
Terpisah, Ketua Ormas Remaong Kutai Berjaya, Hebby Arafat, juga menyuarakan kekecewaannya. Ia menyebut patung-patung tersebut tidak mencerminkan tanah Kutai.
“Ini malang adat. Tenggarong tanah Kutai, bukan tanah Jawa. Tanah Kutai tidak kehabisan tokoh. Jangan hilangkan kearifan lokal di tanah etam,” ujar Hebby.
Hingga berita ini ditulis dan awak media ini sudah berupaya mengkonfirmasi, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar, Rudi Suryadinata, belum memberikan tanggapan atas keluhan masyarakat dan organisasi budaya tersebut.
Di tengah meningkatnya kritik, masyarakat berharap pemerintah segera melakukan evaluasi agar penataan ruang publik tetap selaras dengan identitas budaya Kutai.
Editor: Erwin