Kepala Pelaksana BPBD Kukar Setianto Nugraha Aji melalui Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kukar Edy Haryadi menjelaskan, imbauan itu diterbitkan berdasarkan sejumlah surat dari pemerintah pusat dan provinsi, termasuk BNPB, BPBD Kaltim serta radiogram Kemendagri.
BPBD juga menindaklanjuti informasi terbaru dari BMKG Samarinda yang memprediksi puncak musim hujan di Kukar berlangsung mulai November 2025 hingga April 2026.
“Imbauan ini bukan hanya untuk wilayah hulu tapi berlaku untuk seluruh Kukar. Ada anomali cuaca dan kondisi alam Kukar mirip dengan beberapa wilayah di Sumatera yang kemarin mengalami kejadian bencana. Jadi kami ingin semua camat meningkatkan kewaspadaan,” kata Edy kepada Korankaltim.com Senin (8/12/2025).
BMKG sudah memberikan pembaruan informasi pada tahun 2026 terkait intensitas hujan yang diperkirakan meningkat dengan dua puncak musim hujan yaitu pada Desember–Januari dan April–Mei.
“Itu sifatnya prediksi, tetapi harus diantisipasi. Tahun ini saja kemarau hanya terjadi sebulan, itu pun pada Juli,” sebut Edy lagi.
BPBD Kukar meminta seluruh perangkat kecamatan, kelurahan dan desa untuk mengaktifkan pemantauan informasi cuaca, menyampaikan peringatan dini kepada masyarakat, serta melakukan pengecekan kondisi sungai, drainase dan titik rawan banjir maupun longsor. Selain itu, wilayah dengan topografi berbukit atau dekat aliran sungai besar diminta lebih meningkatkan kewaspadaan.
Langkah mitigasi lain yang diminta dilakukan adalah membersihkan saluran air, tidak membuang sampah ke sungai, melakukan patroli saat hujan lebat, serta memastikan kesiapan sarana prasarana penanggulangan bencana di tingkat desa dan kelurahan.
"BPBD juga menekankan pentingnya kesiapan lokasi dan jalur evakuasi, terutama di daerah rawan," jelasnya.
Jika terjadi peningkatan risiko, kecamatan diminta segera berkoordinasi dengan BPBD Kukar melalui posko dan call center darurat. BPBD menegaskan akan terus memberikan pembaruan informasi cuaca seiring adanya update dari BMKG.
Dengan imbauan ini, BPBD berharap seluruh wilayah di Kukar dapat meningkatkan kesiapsiagaan sehingga potensi risiko bencana hidrometeorologi dapat diminimalkan.
“Walaupun semuanya bersifat perkiraan, yang terpenting adalah antisipasi. Kami adalah ujung tombak, jadi setiap perkembangan akan kami sampaikan ke semua wilayah,” tutup Edy.
Editor: Aspian Nur