Desman menilai bahwa tragedi yang terjadi 14 tahun lalu itu seharusnya menjadi pengingat penting tentang keselamatan infrastruktur dan manajemen kebencanaan di Kukar.
“Setiap 26 November seharusnya menjadi hari refleksi bagi kita semua. Saya melihat momentum ini mulai dilupakan, padahal tragedi itu adalah salah satu yang terbesar dalam sejarah Kukar. Banyak keluarga kehilangan orang yang mereka cintai, dan itu tidak boleh hilang dari memori publik,” ujarnya kepada Korankaltim.com, Rabu (26/11/2025).
Menurutnya, pemerintah daerah perlu lebih serius menghadirkan ruang memorial atau kegiatan peringatan rutin sebagai bentuk penghormatan bagi para korban sekaligus edukasi bagi generasi muda.
“Kita tidak ingin tragedi besar seperti itu berlalu begitu saja tanpa pembelajaran. Pemerintah daerah harus menegaskan komitmen melalui peringatan resmi, seminar keselamatan, atau bahkan museum mini yang menceritakan sejarah Jembatan Kartanegara. Saya pernah tahu dulu rencana museum diorama, tapi bagaimana kelanjutannya rencana itu, kini hanya sekedar wacana,” ungkap Legislator PKB ini.
Desman menekankan bahwa selain aspek historis, tragedi ambruknya jembatan tersebut harus menjadi dasar evaluasi berkelanjutan terhadap proyek-proyek infrastruktur.
“Tragedi 2011 adalah bukti bahwa pengawasan konstruksi tidak boleh main-main. Kita sudah melihat banyak pembangunan besar belakangan ini. Jangan sampai kesalahan yang sama terulang karena kelalaian atau lemahnya pengawasan teknis,” tegasnya.
Politisi berlatar belakang jurnalis ini juga menyayangkan minimnya dokumentasi dan kegiatan penghormatan yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, keluarga korban masih berharap adanya pengakuan dan perhatian moral dari pemerintah daerah.
“Para keluarga korban sudah cukup kuat menghadapi duka mereka, tetapi penghormatan dari pemerintah adalah bentuk keadilan moral. Jangan sampai mereka merasa peristiwa itu dilupakan,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa ke depan DPRD Kukar berencana mengusulkan agenda tahunan berupa Hari Refleksi Keselamatan Infrastruktur setiap 26 November. Usulan ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk kontraktor dan instansi teknis, agar mengutamakan keselamatan publik dalam setiap pembangunan.
“Kukar harus belajar dari sejarah — bukan menutup atau melupakannya. Ingatan terhadap tragedi itu adalah cara kita menjaga agar hal serupa tidak pernah terjadi lagi,” demikian Desman.
Empat belas tahun silam di tanggal dan bulan yang sama, pernah terjadi peristiwa besar di Kutai Kartanegara. Jembatan gantung terpanjang yang berjuluk Golden Gate dan merupakan menjadi urat nadi dan jalur emas Kukar, ambruk.
Kini jembatan dengan desain baja melengkung sudah menjadi pengganti Golden Gate yang berusia hanya 10 tahun tersebut. Untuk tetap mengingatkan peristiwa besar ini kepada generasi penerus, Pemerintah Kabupaten berencana membuat Museum Diorama Jembatan Kartanegara.
Disadur dari berbagai macam sumber, spesifikasi Jembatan Kartanegara yang ambruk yaitu Baja (steel bowstring tied arch) dengan bentang utama terpanjang di Indonesia. Panjang jembatan secara keseluruhan mencapai 710 meter, dengan jembatan pengganti berupa jembatan pelengkung rangka baja menerus dengan bentang utama menggunakan sistem penyangga kabel (hanger) mencapai 270 meter, dan 2 bentang pendekat dengan bentang masing masing 100 meter. Jembatan ini merupakan sarana penghubung antara kota Tenggarong dengan kecamatan Tenggarong Seberang yang menuju ke Kota Samarinda.
Sempat ambruk pada 26 November 2011, jembatan ini kemudian dibangun kembali di lokasi yang sama pada tahun 2013 dan resmi dibuka untuk umum pada 8 Desember 2015.
Jembatan ini awalnya dibangun menyerupai Jembatan Golden Gate di San Fransisco, Amerika Serikat. Pembangunan jembatan ini dimulai pada tahun 1995 dan selesai pada 2001 dengan kontraktor PT Hutama Karya yang menangani proyek pembangunan jembatan tersebut.
Saat diresmikan, jembatan ini dinamai Jembatan Gerbang Dayaku yang diambil dari slogan pembangunan gagasan bupati Kutai Kartanegara saat itu, Syaukani Hasan Rais. Sejak Syaukani tidak menjabat lagi sebagai bupati, jembatan ini diganti namanya menjadi Jembatan Kutai Kartanegara ing Martadipura atau Jembatan Kartanegara.
Jembatan ini juga merupakan akses menuju Samarinda ataupun sebaliknya yang dapat ditempuh hanya sekitar 30 menit. Di kawasan Jembatan Kutai Kartanegara juga terdapat Jam Bentong yang merupakan sebuah tugu yang terdapat taman-taman yang terlihat asri dan indah jika dilihat dari atas jembatan. Kawasan ini setiap sorenya selalu dipenuhi oleh pengunjung yang dapat menikmati keindahan Jembatan Kutai Kartanegara serta memandang Pulau Kumala dari kejauhan.
Kejadian memilukan yakni ambruknya jembatan terjadi pada tanggal 26 November 2011 pukul 16.20 wita. Puluhan kendaraan yang berada di atas jalan jembatan tercebur ke Sungai Mahakam. 24 orang tewas dan puluhan luka-luka akibat peristiwa ini dan dirawat di RSUD Aji Muhammad Parikesit. Sedangkan 12 orang dilaporkan hilang, 31 orang luka berat dan 8 orang luka ringan.
Hasil penelitian tiga tim universitas yang terpisah menunjukkan adanya indikasi kesalahan konstruksi. Tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember menyatakan ada kelemahan pada klem pengikat kabel vertikal.
Editor: Aspian Nur