Ini nantinya untuk lanjutan perjuangan Indonesia dalam mendorong Yupa agar diakui sebagai Memory of the World (MoW) atau Memori Kolektif Dunia oleh UNESCO.
Tujuannya untuk melawan amnesia kolektif yang memang harus segera dilakukan secepatnya agar generasi sekarang dan masa yang akan datang mengetahui informasi penting ini.
Plt Kepala Diarpus Kukar Rinda Desianti melalui Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan dan Penyelamatan Arsip Varia Fadillah mengatakan dilaksanakan Festival Memori of Yupa Muara Kaman pada pekan lalu merupakan aksi nyata suatu langkah Diarpus Kukar mendorong arsip Yupa agar masuk menjadi memori kolektif bangsa juga Memory of the World melalui mendengarkan arahan dewan pakar MKB dari ANRI.
“Selanjutnya diajukan untuk mengikuti sidang pleno penilaian, setelah dinyatakan ANRI siap menerima materi-materinya dan di tahun ini juga diajukan,” kata Varia.
Dengan upaya ini, diharapkan Pemkab Kukar harus mampu mengangkat Yupa sebagai memori kolektif bangsa sehingga dapat mengangkat Muara Kaman menjadi salah salah satu situs Yupa pertama ditemukan.
“Dan akhirnya dampak nya PAD, kunjungan wisata, pengelolaan di sana lebih baik lagi, memberikan preusure anggaran untuk pengelolaannya nanti, ditambah sehingga tempat itu menjadi tempat pusat industri jasa atau pusat industri wisata religi,” harapnya.
Hal senada ditambahkan Kepala Bidang Pengelolaan dan Perijinan Penggunaan Arsip Diarpus Kukar, Norhairi. Pelaksanaan Festival Memory of Yupa pekan lalu ialah dalam upaya memberitahukan bahwa Kukar juga punya Yupa, karena Yupa yang ada di Muara Kaman saat ini hanyalah duplikat, sementara aslinya di Jakarta.
“Yang ada masih aslinya itu ya yang Lesong Batu. Menurut kepercayaan saudara kita umat hindu itu, situs di Muara Kaman itu seperti layaknya kita umat Islam pergi ke Makkah, makanya mereka ketika perayaan hari raya galungan, dan hari raya umat hindu itu disana ramai dan disucikan oleh mereka,” terangnya.
Norhairi menegaskan dari berbagai referensi yang diperolehnya bahwa dulu pada saat zaman pra sejarah, saat Raja Mulawarman menyedekahkan 20 ribu ekor sapi untuk brahmana, kemudian untuk mengikat banyaknya sapi tersebut denga menggunakan lesong batu itu.
“Makanya dianggap sakral. Semoga dapat ditetapkan dan ANRI yang meloloskan menjadi Memori Kolektif Bangsa, ketika lolos maka akan dilanjutkan dan diusulkan menjadi Memory of World (MoW) dan nantinya jadi sejarah dunia, insyaAllah mudah-mudahan dan ini menuntut keterlibatan banyak pihak bukan arsip saja, kami di kearsipan itu membantu sebagai kelengkapan instrumen dan indikator apa saja sih yang harus dilengkapi,” tegas Norhairi. (*/kk)