Festival yang dihadiri langsung perwakilan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yakni Ketua Dewan Pakar Memori Kolektif Bangsa (MKB) Mukhlis PaEni dan dibuka resmi oleh Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin ini berlangsung sukses dan lancar berkat dukungan Dinas Pendidikan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Pemerintah Kecamatan Muara Kaman, seluruh masyarakat Muara Kaman, komunitas penggiat seni budaya dan penggiat literasi.
“Meriah pertama kali dilaksanakan oleh Diarpus dan saya bilang ini sukses karena banyak hal yang diangkat termasuk memori dan mengajak kita semua untuk mengingat sejarah yang ada di Muara Kaman, ini penuh makna,” kata Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin.
Dalam laporannya, Plt Kepala Diarpus Kukar Rinda Desianti menjelaskan Festival Memory of Yupa ini bertujuan mempromosikan dan menyosialisasikan registrasi arsip prasasti Yupa sebagai memori kolektif bangsa. “Saat ini tengah verifikasi usulan MKB tahap kedua dan kita masih menunggu informasi resmi lebih lanjut dari kesekretariatan MKB ANRI, kami berharap dukungan publik semakin kuat terhadap arsip Yupa sebagai bukti peradaban tertua di nusantara serta memperoleh pengakuan nasional yang setara dengan nilai sejarahnya,” ucap Rinda.
Rinda memaparkan adapun pelaksanaan festival ini dimulai sejak Senin (17/11) siang dari Museum Mulawarman Kota Tenggarong menuju Muara Kaman menggunakan kapal wisata Pesut Bentong. Perjalanan ini sengaja dikemas oleh Diarpus sebagai pengalaman edukatif dan budaya.
“Mengajak komunitas untuk bernostalgia bahari menyusuri sungai yang menjadi jalur utama peradaban masa lalu diselingi dengan ngapeh on the river menghadirkan narasi budaya dengan dukungan narasumber yang kompeten,” paparnya.
Pada malam harinya dilakukan seremoni pembukaan festival, dirangkai dengan ziarah ke situs Lesong Batu oleh Wakil Bupati Kukar dan jajaran. Masyarakat yang hadir dihibur dengan penampilan atraktif dari pentas seni musik dan budaya.
Hari kedua masih dipusatkan di kawasan Museum Lesong Batu yakni olahraga zumba bersama masyarakat, dilanjutkan nyerawen atau duduk bersila sama-sama menyantap makanan khas kutai dan story telling napak tilas ke situs-situs Yupa. Kemudian dilaksanakan Talk Show menggali memori kolektif bangsa prasasti Yupa.
Festival ini diharapkan bukan hanya menjadi agenda pertunjukan seni dan budaya tetapi juga menjadi media edukasi publik kepada masyarakat agar memahami pentingnya pelestarian arsip sejarah. “Prasasti Yupa bukan sekedar peninggalan masa lalu tetapi identitas kebanggaan dan sumber pengetahuan yang harus diwariskan kepada generasi mendatang, melalui memori kolektif bangsa kita ingin memastikan bahwa arsip Yupa menjadi bagian memori nasional dan tercatat sebagai warisan dokumenter bangsa. Terima kasih semua pihak mendukung kegiatan ini,“ tegas Rinda.
Sementara itu, perwakilan ANRI selaku Ketua Dewan MKB Mukhlis PaEni menyatakan festival Memory of Yupa ini sebagai upaya untuk mengajukan arsip reservasi dari prasasti Yupa menjadi memory kolektif bangsa dan upaya yang dilakukan untuk mengajukan apa yang terkandung di dalam prasasti Yupa itu sebagai usulan menjadi memory of the world.
“Semoga upaya kita bersama ini semakin mempertegas bahwa peradaban tertua di nusantara berada di Kutai, Muara Kaman,” katanya. (*/kk)